SMKN 1 Garut, Gelar Teaterikal Peristiwa G30S/PKI

0
379

KANDAGA.ID – Secara serentak setiap 1 Oktober, seluruh masyarat Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila yang berkaitan dengan peristiwa G30S/PKI yang terjadi Gerakan 30 September 1965.

Supaya generasi muda tidak melupakan fakta sejarah, SMKN 1 Garut di Jalan Cimanuk No. 309A Pataruman, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, menggelar teatrikal di area taman dan lapangan Garuda Hitam, Senin (1/10/2018).

Kepala SMKN 1 Garut, Drs. H. Dadang Johar Arifin, MM., usai acara kepada beberapa awak media mengatakan, teatrikal ini sudah direncanakan selama 2 minggu sebanyak 7 kali latihan, dengan menganalisa, membaca-baca tentang sejarah, kemudian didekati dengan pemutaran film.

“Saya pesankan kepada anak-anak muda, generasi milenial supaya tidak melupakan fakta sejarah. Bahwa kejadian 30 September itu adalah betul-betul terjadi di Republik Indonesia ini,” ujarnya.

Menurutnya, peristiwa itu terjadi pro dan kontra pada saat ini, ada keterlibatan pihak asing, itu tidak menutup kemungkinan ada. Tapi memang benar-benar terjadi bahwa itu mendekati nilai-nilai kebenaran.

“Orang tua saya sendiri mengalami dan menceritakan bahwa benar telah terjadi penculikan oleh gerombolan PKI pada waktu itu,” ujarnya.

Dadang menceritakan pengalamannya dirinya yang masih teringat ketika dulu berusia antara dua-tiga tahun, ketika waktu itu di depan pintu rumahnya ada diantaranya orang-orang yang akan diambil.

“Karena PKI benar pada tahun 1948, kemudian Muso Alimin, kemudian bangkit lagi pada tahun 1965, itu adalah seluruh PKI adalah gerakan yang sangat kuat sekali dan massif, dan itu sekarang juga di Utara Korea masih ada, kemudian di Cina juga masih ada, di Vietnam juga masih ada, di Cuba masih ada,” ujarnya.

Dadang mengatakan, andai kata, ada yang mengatakan PKI itu sudah mati, itu tidak benar.

“Kita jangan terlena, gerakan itu memang masih ada, kita harus mewaspadai. Maka kita memberikan kepada anak-anak muda, bahwa kejadian-kejadian ini supaya tidak dilupakan, supaya mereka tetap waspada,” pungkasnya.

Teatrikal yang menceritakan kejadian penculikan dan pembunuhan enam jenderal dan satu kapten yang dilakukan segerombolan militer yang disebut sebagai pasukan Cakrabirawa.

Begitu juga adegan rapat-rapat yang berlangsung dihadiri oleh orang sipil yang digambarkan sebagai PKI di satu pihak dan militer di pihak lainnya.

Teaterikal yang melibatkan semua guru, karyawan dan dibantu oleh kurang lebih 20 peserta didik kelas XII, di tonton seluruh peserta didik kelas X, dan kelas XI. (Jajang Sukmana)***