Sinergisitas: Sebuah Titik Terang di Tengah Pandemi Covid-19

0
253

Fitri Ayu Febrianti

Fitriayufebri[email protected]gmail.com

Pengantar

Saat ini, bumi yang kita pijaki sedang dirundung wabah Corona Virus Diseases-19 (Covid-19). Covid-19 disinyalir mulai mewabah pada tanggal 31 Desember 2019, di Kota Wuhan, Tiongkok. Seperti hembusan angin, virus ini menyebar begitu cepat ke seluruh penjuru dunia. Mengingat penyebarannya sangat ‘agresif’, maka pada tanggal 11 Maret 2020, WHO menetapkan wabah ini sebagai pandemi global.[1]

Seolah mimpi buruk, manusia yang terpapar virus ini semakin membludak dalam kurun waktu yang singkat. Banyak korban yang berjatuhan hingga harus meregang nyawa. Cukup jelas bahwa ini merupakan ancaman besar bagi umat manusia. Nahas, sejauh ini antidot untuk virus Covid-19 belum jua ditemukan.

Peliknya penanganan wabah Covid-19 membuat para pemangku kekuasaan berpikir keras untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini. Pembatasan sosial (social distancing) dipilih sebagai langkah preventif untuk menangani kasus ini. Seperti namanya, pembatasan sosial mengusung konsep berupa pembatasan mobilitas manusia, terlebih dalam hal berinteraksi. Melalui pembatasan sosial, pemerintah berharap laju penyebaran Covid-19 dapat menurun.

Kebijakan ini berimbas pada beberapa sektor kehidupan, terutama bidang pendidikan. Menurut PBB, sebanyak 22 negara telah memberlakukan atau berencana untuk menutup sekolah dan kegiatan belajar mengajar. Setidaknya ada 290 juta siswa di seluruh dunia yang akan terdampak. Negara-negara seperti Arab Saudi, Tiongkok, Italia, serta 10 negara lainnya telah menutup sekolahnya secara nasional.[2]

Problematik

Sayangnya, kebijakan ketat ini kerap menuai masalah baru. Keputusan pemerintah yang ‘merumahkan proses pembelajaran’, membuat berbagai pihak kurang siap untuk merealisasikan kebijakan mendadak ini.

Tidak hanya lokasi, namun cara pembelajaranpun ikut banting setir. Peralihan cara pembelajaran membuat berbagai pihak harus mengikuti alur yang disarankan pemerintah, dengan memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran dalam jaringan (daring). Sayangnya, guru masih terjebak dalam labirin kegamangan, tentang apa yang harus ia lakukan selama pembelajaran dipindahalihkan ke rumah.

Argumentasi

          Pada hakikatnya, guru memegang peran yang amat sentral dalam proses pembelajaran. Guru harus menciptakan interaksi belajar-mengajar sedemikian rupa, sehingga siswa mampu mewujudkan kualitas perilaku belajarnya secara efektif.[3] Mengacu pada hal ini, guru perlu aktif dan kreatif mendayagunakan berbagai komponen yang ada, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Terlebih di masa pandemi ini, guru harus senantiasa memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, meskipun siswa berada di rumah. Inovasi pembelajaran menjadi solusi utama untuk menjawab tantangan ini. Melalui pemanfaatan teknologi media daring, pembelajaran dapat menggunakan perangkat keras seperti laptop dan Personal Computer (PC) yang terhubung dengan koneksi jaringan internet. Selain itu, guru juga dapat mendayagunakan aplikasi media sosial seperti WhatsApp, zoom, atau media lainnya.

Ternyata, dengan beralih menuju daring, pembelajaran ini bisa memiliki sisi positif. Guru bisa lebih kreatif dan inovatif dalam membuat desain pembelajaran. Selain itu, siswa mampu mendapat bekal untuk menyongsong era revolusi industri 4.0, sehingga siswa terhindar dari kebutaan teknologi. Hal ini ditunjang oleh pernyataan Wahyudin dan Rudi[4], bahwa model pembelajaran berbasis teknologi (terutama di Sekolah Dasar), dapat melatih kemampuan menyeimbangkan proses kerja belahan otak kiri dan kanan secara seimbang.

Namun, kenyataan di lapangan tidak selalu berbanding lurus dengan ekspektasi ideal. Bagi segelintir orang, transformasi pembelajaran menuju daring mungkin bukan hal yang merepotkan. Kelompok ini bisa memanfaatkan teknologi sebagaimana mestinya. Namun, bagi sebagian lagi hal ini tentu menjadi masalah baru. Pasalnya, terdapat beberapa kendala yang dapat menghambat terealisasikannya kebijakan ini. Hambatannya bisa berupa keterbatasan sarana dan prasarana, jaringan internet, hingga minimnya referensi dan kompetensi.

Hal ini selaras dengan argumen anggota Komisi X DPR, Muhammad Kadafi, yang menyatakan bahwa “…para guru dan murid yang terbiasa dalam pola belajar mengajar tatap muka mendadak belajar secara online. Sementara, tidak semua daerah memiliki kestabilan jaringan internet sehingga para guru dan murid harus kreatif mencari solusinya,”[5]

Sejatinya, guru bukan satu-satunya tonggak penentu keberhasilan dalam pendidikan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara, salah satu pejuang pendidikan di negeri zamrud khatulistiwa, “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah,”[6] Petuah dari Bapak Pendidikan ini relevan dengan kondisi terkini, ketika bumi sedang dirundung wabah Covid-19.

Merujuk pada pernyataan di atas, tentu perlu digarisbawahi bahwasanya roda pendidikan tetap bisa berputar, sekalipun tidak di sekolah. Pasalnya, ruang lingkup pendidikan cukup luas, tidak hanya terbatas pada pendidikan formal, melainkan ada pendidikan informal dan nonformal. Sinergisitas inilah yang disebut dengan tripusat pendidikan.

Gambar 1. Tripusat Pendidikan

          Berdasarkan gambar 1, tripusat pendidikan[7] merupakan istilah dalam bidang pendidikan yang berarti memberdayakan sinergisitas lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Istilah tripusat pendidikan dipopulerkan oleh Ki Hajar Dewantara. Esensi dari konsep ini, upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah membutuhkan dukungan dari berbagai lingkungan pendidikan lain.

Di lingkungan sekolah, pendidikan dilaksanakan secara formal, yakni dengan sengaja merencanakan tujuan-tujuan yang akan dicapai. Di lingkungan keluarga, pendidikan dilaksanakan secara informal melalui pengalaman hidup sehari-hari. Dalam lingkungan masyarakat, terdapat beberapa lembaga organisasi sosial yang dapat menunjang proses pendidikan.

Tentunya, pendidikan formal, informal, dan nonformal harus saling bersinergi satu sama lain. Bila pendidikan hanya berjalan di sekolah, maka sangat sulit untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Begitupun dengan kondisi saat ini, ketiga elemen itu perlu bahu membahu untuk menunjang dan memfasilitasi belajar siswa. Sederhananya, beban pendidikan tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru/ pendidikan formal, melainkan keluarga dan masyarakat harus ikut andil dalam hal ini.

Konklusi

            Menyikapi era pandemi Covid-19 (yang entah kapan berakhir), tampaknya sektor pendidikan perlu tetap berjalan sebagaimana mestinya. Pada masa ini, sistem pembelajaranpun beralih menuju daring. Hal ini tentu membuat berbagai pihak perlu menyelaraskan langkah agar roda pendidikan tetap berputar.

Inovasi menjadi solusi utama untuk menghadapi tantangan ini. Mendayagunakan berbagai media dan teknologi, ditunjang dengan kreativitas guru, maka pembelajaran akan tetap berjalan dengan baik. Sayangnya, tidak semua guru memiliki kapasitas serupa. Hal ini menuai masalah baru yang perlu ditanggulangi. Pada akhirnya, sinergisitas menjadi titik terang bagi problematik ini. Sejatinya, peran tripusat pendidikan perlu saling bersinergi satu sama lain agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara optimal.

Referensi

[1] Nuryana, A.N. (2020). Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Dunia Pendidikan. [daring]. Dapat diakses dari: http://kabar-priangan.com/dampak-pandemi-covid-19-terhadap-dunia-pendidikan

[2] Cakap. (2020). Cakap Menawarkan Solusi Belajar Mengajar Secara Daring untuk Melawan Covid-19 di Indonesia. [daring]. Dapat diakses dari: https://amp.kontan.co.id/release/cakap-menawarkan-solusi-belajar-mengajar-secara-daring-untuk-melawan-covid-19-di-indonesia

[3] Surya, M. (2015). Psikologi Guru: Konsep dan Aplikasi. Bandung: Penerbit Alfabeta

[4] Wahyudin, D. dan Rudi S. (2011). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta Utara: Rajagrafindo Persada

[5] Satriadi, R. (2020). Kadafi: Guru Kreatif Jadi Solusi Pendidikan di Masa Covid-19. [daring]. Dapat diakses dari: https://amp.beritasatu.com/nasional/618303-kadafi-guru-kreatif-jadi-solusi-pendidikan-di-masa-covid-19

[6] Setiya, Y. (2020). 21 Quotes Ki Hadjar Dewantara, Pelopor Pendidikan Nasional. [daring]. Diakses dari: http://dianisa.com/quotes-ki-hadjar-dewantara

[7] Wikipedia. (Tanpa Tahun). Tripusat Pendidikan. [daring]. Diakses dari: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tripusat_pendidikan