Prof KH Anwar Musaddad

0
185
Prof. KH. Anwar Musaddad (net)

Berjuang di Segala Zaman

PProf. KH. Anwar Musaddad

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Ungkapan ini tentu saja memiliki makna yang sangat luhur, tidak hanya sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan, lebih dari itu segala kemajuan bangsa hari ini tidak terlepas dari jejak langkah, pemikiran dan perjuangan para pahlawan bangsa.

Meski begitu banyak anak bangsa yang telah berjuang untuk tanah airnya,tidak berarti gelar pahlawan nasional bisa didapatkan dengan mudah. Sejumlah persyaratan dan parameter yang tinggi telah ditetapkan oleh pemerintah, salah satunya adalah perjuangan calon pahlawan nasional harus berpengaruh secara nasional bukan hanya di daerahnya saja. Tak heran banyak usulan dari daerah yang akhirnya tidak dikabulkan pemerintah pusat salah satunya adalah RA Lasminingrat, tokoh wanita pejuang yang diusulkan Pemkab Garut.

Kini, seiring waktu sejumlah tokoh didukung oleh Bupati Garut, H Rudy Gunawan kembali mengusulkan  salah satu tokoh nasional asal Garut yaitu Alm. Prof KH Anwar Musaddad sebagai pahlawan nasional. Pengusulan ini dilandasi oleh begitu besarnya jasa dan pengaruh pejuang, ulama, dan cendekiawan ini bagi bangsa Indonesia.

Prof. KH. Anwar Musaddad (net)

Mengenang  Alm. Prof KH Anwar Musaddad bagaikan menyelami mata air yang begitu jernih. Dalam sosoknya terbayang jelas jejak langkah dan peninggalan besar yang hingga kini masih diteruskan oleh anak, cucu dan para muridnya di seluruh penjuru negeri.

Terlahir dari garis keturunan  Kesultanan Cirebon dan Mataram, Prof KH Anwar Musaddad  yang pada masa kecilnya bernama Dede Masdiad,lahir pada tanggal, 3 April 1909 dari pasangan Abdul Awal dan Marfuah. Sayang, sang ayah telah berpulang saat ia berusia 4 tahun. Sejak itu ibu dan neneknya membesarkannya dengan membekali pendidikan formal dan agama.  Pendidikan formal pertamanya diawali saat masuk di  HIS (Hollandsche Indische School), Sekolah Dasar milik Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian dilanjutkan ke  MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Sukabumi dan AMS (Algemene Middlebare School) atau tingkat SMA di Jakarta. Bersekolah di lembaga pendidikan nasrani ternyata berpengaruh besar dalam perjalanan hidupnya, meski membuat orangtuanya khawatir  karena Anwar muda tertarik mempelajari kitab injil dan kristologi, ternyata dikemudian hari, Anwar menjadi guru besar perbandingan agama, yang hingga kini diyakini sebagai guru besar satu-satunya di bidang tersebut dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU)

Karena kekhawatiran sang bunda, akhirnya Anwar muda dipanggil pulang ke Garut dan selanjutnya berguru ilmu agama Islam kepada ulama yang sangat berpengaruh yaitu KH Yusuf Tauziri. Saat beranjak dewasa, ia dikirim untuk belajar ke  Mekah sekaligus menunaikan ibadah haji. Bermukim lebih dari sepuluh tahun di Saudi Arabia, Anwar Musaddad semakin mumpuni dalam bidang agama Islam. Tak hanya itu pengalamannya menempuh pendidikan di tanah air membuatnya fasih menguasai berbagai bahasa, selain bahasa Arab, ia juga fasih berbahasa Inggris, Jerman dan Belanda

Saat-saat terakhir kejatuhan Belanda, Anwar Musaddad kembali ke tanah kelahirannya,Tahun 1941, ia mendirikan Komunitas Umat di Garut, tak hanya itu kecerdasannya menarik perhatian salah seorang tokoh pergerakan bangsa HOS Tjokroaminoto yang kemudian mengangkatnya sebagai anak . Saat konflik bersenjata, Anwar Musaddad terjun ke medan perang memimpin Hizbullah dan berhasil meredam agresi Belanda dan serangan DI/TII.

Selepas kemerdekaan kiprahnya dalam menyebarkan syiar Islam terus berlanjut. Sejumlah jabatan penting diamanahkan ke pundaknya. Salah satu yang cukup fenomenal, saat berusia 41 tahun tepatnya tahun 1951, ia menghadap Meteri Agama dan mengusulkan pendirian Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) lalu mengabdi sebagai dosen  Tasyauf, Dakwah, Perbandingan Agama, Tafsir dan Hadits . Tahun 1962, ia didaulat sebagai Dekan Fakultas Usuludin IAIN Sunan Kalijaga. Lima tahun kemudian, ia juga mendirikan IAIN Sunan Gunung  Djati dan ditetapkan sebagai rektor pertama hingga tahun 1974

Tak hanya di bidang pendidikan formal, Prof KH Anwar Musaddad juga berkiprah di bidang politik dan organisasi umat Islam terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul  Ulama (NU). Di bidang politik Prof KH Anwar Musaddad pernah terpilih menjadi anggota DPR RI. Sedangkan kiprahnya di NU dimulai sejak 1952, sejumlah jabatan penting pernah diembannya diantaranya Ketua III PBNU, Wakil Rais ‘Aam Lembaga Syuriah NU dan menjadi penasehat NU hingga akhir hayatnya pada tahun 2000 dalam usia 91 tahun

Disela-sela kesibukannya  berdakwah melanglang buana, tahun 1975 Prof KH Anwar Musaddad mendirikan Yayasan Al-Musaddadiyah. Bersama anak dan cucunya, yayasan yang didirikannya berkembang menjadi pesantren dan lembaga pendidikan Islam yang cukup berpengaruh. Di bawah naungan Yayasan  Al-Musaddadiyah berbagai lembaga berkembang dengan pesat, dari mulai Pondok Pesantren, Majelis Taklim, Madrasah dan sekolah, perguruan tinggi, koperasi hingga poliklinik dan apotek. Tak hanya itu, ia juga berperan besar dalam pendirian perguruan tinggi pertama di Kabupaten Garut yaitu Universitas Garut

Rasanya tak cukup waktu untuk mengurai perjalanan hidup dari salah satu putra terbaik bangsa ini. Dianugerahi ilmu yang mumpuni dan usia yang panjang, Alm Prof KH Anwar Musaddad telah menjadi saksi dan pelaku dari perjalanan Indonesia dari zaman ke zaman. Kiprahnya tak hanya diakui luas oleh masyarakat Indonesia tetapi juga oleh dunia internasional. Ajaran-ajarannya tentang kesalehan, konsistensi dan keteguhan dalam berjuang hingga kapanpun akan terukir manis dan menjadi cermin dan penerang bagi para penerusnya.

Seperti salah satu sikapnya yang selalu mengingatkan untuk tidak pernah mengharapkan jasa, rasanya Alm Prof KH Anwar Musaddad tidak akan pernah menginginkan diberikan gelar pahlawan nasional tetapi sebagai bangsa yang besar sudah sepantasnya kita menempatkan beliau di tempat yang terhormat sejajar dengan para pahlawan nasional lainnya. Ada ataupun tidak adanya pengakuan, Prof KH Anwar Musaddad sesungguhnya telah menjadi pahlawan sepanjang zaman. *** Herdy M Pranadinata/ dari berbagai sumber