Penguatan Karakter Generasi Tanggungjawab Semua Pihak

0
243

KANDAGA.ID – Untuk mengoptimalisasi peran serta nasyarakat dalam mewujudkan pendidikan karakter di sekolah, serta strategi dan konsepsi bahan ajar dalam implementasi program penguatan pendidikan karakter bagi generasi emas anak bangsa jenjang SMP.

Dewan Pendidikan Kabupaten Garut di Jl. Kiansantang No. 5, Kelurahan Regol, Kecamatan Garut Kota, menggelar seminar pendidikan bagi wakil kepala sekolah bidang kesiswaan jenjang SMP se-Kabupaten Garut dengan tema “Implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Perlibatan Masyarakat” dengan dua nara sumber dari Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Kabupaten Garut, Dr. Tetep, M.Pd., dan Dr. Hj. Jamilah, SH., M.Pd., Sabtu (15/12/2018).

Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Garut, Drs. H. Duden Surachman, M.Si., mengatakan, tujuan kegiatan ini sebagai penguatan karakter peserta didik SMP kearah yang lebih baik dan benar, berdasarkan Undang-Undang Sisdiknas No. 20 tahun 2013.

“Membekali para wakil kepala sekolah bidang kesiswaan SMP se-Kabupaten Garut, agar mampu mengimplementasikan pendidikan karakter bagi peserta didik jenjang SMP,” ujarnya.

Duden mengatakan, karena peserta terbatas, sehingga bagi peserta yang ikut dalam seminar pendidikan ini, selain wajib mengimplementasikan di sekolahnya masing-masing, juga diwajibkan menularkan ke sekolah lain melalui rayon.

“Diharapkan semua peserta didik jenjang SMP yang ada di Kabupaten Garut kelak menjadi generasi yang memiliki budi pekerti luhur dan berkarakter mulia,” pungkasnya.

Sementara itu, Dr. Hj. Jamilah, SH., M.Pd., mengatakan, pendidikan karakter sebenarnya tanggungjawab bersama mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat.

“Saya mengambil tema berkaitan dengan optimalisasi peran serta masyarakat dalam mewujudkan pendidikan karakter di sekolah. Ternyata dari berbagai sumber yang saya baca, bahwa titik temunya itu masyarakat dan di sekolah melalui komite sekolah,” ujarnya, saat ditemui usai kegiatan.

Hj. Jamilah menegaskan, ada 6 fungsi komite sekolah, satu diantaranya adalah pembenahan sikap peserta didik. Jadi fungsi peran komite sekolah masuk ke sekolah itu, dimanfaatkan berkaitan dengan perubahan prilaku peserta didik.

“Indikator utama pada pendidikan karakter adalah religius, yang kini sudah dilaksanakan di jenjang SMP dengan embun pagi,” ujarnya.

Maka daripada itu, tegas Hj. Jamilah, optimalisasi di optimalkan peran masyarakat dalam hal ini komite sekolah, harusnya membantu sekolah menaikkan mutu sekolah.

“Jadi mulai sekarang, bangun sinergisitas antara komite sekolah dengan kepala sekolah, yang lalu biarlah berlalu, lebih kooperatif lagi, duduk bersama dengan kepala sekolah dan lain sebagainya,” pintanya.

Hj. Jamilah merasa prihatin terhadap kondisi karakter anak bangsa sekarang, makanya penguatan pendidikan karakter harus lebih diimplementatifkan, mulai dari keluarga.

“Jangan menyalahkan sekolah, karena di sekolah peserta didik hanya dari jam 07.00 pagi sampai jam 12.00, ada juga yang sampai jam 15.00, tergantung dari kebijakan sekolah itu sendiri,” pungkas Dosen IPI yang sudah mengajar sejak tahun 1989 di STKIP Garut ini, agar keberadaan Bimbingan dan Konseling (BK) dan Wakasek Kesiswaan bersinergi, dengan batasan tupoksi atau job description masing-masing.

Sementara itu, Dr. Tetep, M.Pd., dengan tema materi “Bahan Ajar dan Penguatan Pendidikan Karakter” mengatakan, ada 5 tantang yang harus dihadapi di abad 21 yaitu, Competitive Advantages (Keunggulan Kompetitif), Rapid/Fastest Change (Perubahan Cepat/Tercepat), Democratization (Demokratisasi), Borderless World and Communication (Dunia Tanpa Batas dan Komunikasi), dan Networking (Jaringan).

Menurutnya, pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai perilaku (karakter) kepada warga sekolah yang meliputi pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi insan kamil.

“Ada 4 filosofi pendidikan karakter dari Ki Hajar Dewantara yaitu, Olah Hati (Etika), Olah Pikir (Literasi), Olah Karsa (Estetika), dan Olahraga (Kinestetika),” jelasnya.

Dari semua itu jelas Dr. Tetep, nilai-nilai karakter yang terkandung yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, dan lain-lain.

“Nilai utamanya adalah religius, nasionalis, mandiri, gotong-royong, dan integritas,” simpulnya.

Sedangkan diadopsi dari Kemdiknas 2010, tambah Dr. Tetep, bahwa Olah Hati (Etika) yaitu beriman dan bertakwa, jujur, amanah, adil, bertanggung jawab, berempati, berani mengambil resiko, pantang menyerah, rela berkorban, dan berjiwa patriotik.

“Sedangkan Olah Pikir (Literasi) yaitu cerdas, kritis, kreatif, inovatif, ingin tahu, berpikir terbuka, produktif, berorientasi Ipteks, dan reflekti,” jelasnya.

Kemudian, Olah Karsa (Estetika), tambah Dr. Tetep, yaitu ramah, saling menghargai, toleran, peduli, suka menolong, gotong royong, nasionalis, kosmopolit , mengutamakan kepentingan umum, bangga menggunakan bahasa dan produk Indonesia, dinamis, kerja keras, dan beretos kerja.

“Dan terakhir, Olah Raga (Kinestetika) yaitu bersih dan sehat, disiplin, sportif, tangguh, andal, berdaya tahan, bersahabat, kooperatif, determinatif, kompetitif, ceria, dan gigih,” pungkasnya. (Jajang Sukmana)***