Pengembangan Pendidikan Karakter Melalui Pendekatan “PAHALA” di Sekolah Dasar

0
118
Oleh : Ida Siti Faridah, M.Pd. (Kepala Sekolah SDIT Persis Tarogong 2)

Penguatan karakter menjadi topik yang sangat menarik bahkan penting untuk didiskusikan di era milenial dan revolusi industri 4.0. Pada era perkembangan teknologi yang serba cepat dan mudah, serba berbasis internet, yang menjadi pertanyaan adalah apakah selaras dengan perkembangan dan penguatan karakter, akhlaq dan sikap siswa, atau sebaliknya, dengan perkembangan teknologi berbasis internet justru malah membuat akhlak anak-anak kita menurun bahkan rusak?
Secara keilmuan, kemajuan teknologi dan industri 4.0 mungkin akan membuat anak-anak semakin pintar dan cerdas. Namun timbul lagi pertanyaan, apakah mampu memberikan pengaruh terhadap kecerdasan akhlaq dan keterampilan anak-anak? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidaklah mudah untuk dijawab. Seiring dengan realitas dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa memperhatikan, bagaimana sikap dan perilaku anak-anak sekarang, mulai dari cara berpakaian, cara bertutur kata, cara bersikap terhadap orang tua, kepada guru, hoaks yang saling mengintimidasi, menyudutkan bahkan menghina begitu bebas bertebaran di dunia maya.
Karakter atau yang juga dipahami sebagai watak, tabiat dan akhlaq merupakan tujuan dalam dunia pendidikan sebagaimana dijelaskan dalam Undang-undang Sisdiknas no.20 tahun 2003, bahwa tujuan pendidikan diantaranya adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pendidikan karakter juga diperkuat dengan nawacitanya Presiden Jokowi yaitu Penguatan revolusi karakter bangsa melalui budi pekerti dan pembangunan karakter peserta didik sebagai bagian dari revolusi mental. Hal itu dilakukan untuk mempersiapkan generasi masa yang akan datang agar mampu bertahan hidup dan bersaing di era revolusi industri 4.0. Terutama untuk mempersiapkan generasi emas di tahun 2045 yang bertaqwa, nasionalis, tangguh, mandiri, dan memiliki keunggulan bersaing secara global.
Tujuan dan harapan itu hanya akan menjadi sebuah cita-cita dan keinginan belaka jika tidak ada action dalam pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran, karena karakter itu tidak bisa hanya didefinisikan, dihapal, didiskusikan dan diwacanakan saja. Cara mencerdaskan karakter tidaklah sama dengan cara mencerdaskan pengetahuan siswa. Kecerdasan pengetahuan bisa dicari dan diperoleh melalui membaca, searching di google, membuka youtube, browsing, bahkan cara dan metode di media sosial lebih menarik dibanding dengan harus duduk diam di kelas memperhatikan guru yang mengajar dengan metoda dan cara yang monoton. Namun kecerdasan karakter sebagaimana dijelaskan oleh Nasih Ulwan adalah melalui; 1) keteladan, 2) pembiasaan, 3) nasehat,4) perhatian dan hukuman. Peran serta orang tua, guru bahkan pejabat publik sangat memberikan pengaruh kepada anak karena merekalah yang harus menjadi aktor dan aktris, model dan panutan bagi anak-anak. Mencerdaskan karakter dan perilaku siswa perlu strategi dan pendekatan yang aplikatif agar mampu dipahami, dihayati dan dilakukan sehingga menjadi karater baik bagi siswa. Salah satunya pendekatan yang dilakukan dalam mencerdaskan karakter siswa melalui pendekatan “PAHALA”
Sebagaimana dijelaskan dalam KBBI, secara etimologi, PAHALA berarti ganjaran. Artinya sekecil apapun karya, ide, kreatifitas, sikap yang ditampilkan baik guru maupun siswa pasti akan mendapatkan apresiasi atau ganjaran, baik yang bersifat verbal maupun non verbal, material maupun non material. Hal itu dilakukan untuk memberikan motivasi agar terus berkarya, sekalipun tujuan utama dari sebuah perbuatan bukan hanya pahala bersifat fisik karena hakekatnya hanya mengharapkan rido Allah.
PAHALA yang dimaksud sebenarnya merupakan akronim dari PAhamilah, HAyatilah dan LAkukan. PAHALA sebagai sebuah pendekatan awalnya terinspirasi dari pendidikan karakter yang dikembangkan oleh Thomas Lickona (1992). Menurutnya ada tiga komponen yang penting (components of good character) dalam pendidikan karakter yaitu
1. Moral knowing atau pengetahuan tentang moral. Pengetahuan Moral yang harus dijarkan kepada siswa antara lain: 1) moral awareness (kesadaran moral), 2) knowing moral values (mengetahui nilai-nilai moral), 3) perspective taking, 4) moral reasoning, 5) decision making dan 6) self knowledge.
2. Moral feeling adalah aspek yang harus ditanamkan kepada siswa sebagai sumber energi dari diri manusia untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip moral. Aspek emosi yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia berkarakter, yakni 1) conscience (nurani), 2) self esteem (percaya diri), 3) empathy (merasakan penderitaan orang lain), 4) loving the good (mencintai kebenaran), 6) self control (mampu mengontrol diri) dan humility (kerendahan hati).
3. Moral action sebagai upaya mewujudkan pengetahuan moral menjadi tindakan nyata sebagai hasil (outcome) dari moral knowing dan moral feeling. Ada 3 aspek yang mendorong anak dalam perbuatan yang baik (act morally) yaitu 1) kompetensi (competence), 2) keinginan (will) dan 3) kebiasaan (habit).
Karakter yang akan dikembangkan melalui pendekatan PAHALA adalah religius, rasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas sebagaimana dijelaskan dalam pendidikan penguatan karakter. Pengembangan pendidikan karakter agar dapat efektif dan efesien serta hasilnya membumi dengan dunia anak, harus dilakukan dengan cara memberikan model, qudwah, dan contoh kepada siswa, pengulangan yang akan menjadi sebuah kebiasaan, kata-kata positif yang mampu mempengaruhi mind set dan good will siswa melalui nasehat-nasehat, perhatian dari guru atau orang tua sebagai upaya mendekatkan hati secara emosional dan hukuman sebagai konsekuensi dari perbuatan.
Implemtasi pendekatan “PAHALA” jika digambarkan maka alurnya sebagai berikut:


Pendekatan PAHALA yang dapat diterapkan adalah adanya RML yang artinya :
1. Regulasi aturan yang disepakati, yang harus dilaksanakan oleh semua stakeholder sekolah. Semua aktifitas ada aturan mainnya, ada mekanismenya. Contohnya, ketika akan menanamkan karakter disiplin siswa melalui tata cara masuk sekolah, maka dibuatlah tata cara masuk kelas sebagai berikut:

a. Buka sepatu dan menyimpan sepatu di rak sepatu.
b. Ketuk pintu terlebih dahulu dan ucapkan salam Assalamu‘alikum Warohmatullohi wa barakatuh
c. Siswa masuk dan bersalaman kepada guru yang ada di kelas kemudian di kursi.
2. Model atau teladan. Mekanisme itu harus dilakukan terlebih dahulu atau dicontohkan oleh guru dalam upaya memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada siswa betapa pentingnya memiliki sikap disiplin. Dan itu harus dicontohkan dan dilakukan oleh guru ketika mau masuk ke kelas.
3. Latihan/drilling. Latihan sebagai sarana untuk mebiasakan sikap dan perilaku siswa dengan terus dilakukan dan terus diingatkan oleh guru.
Regulasi, model dan latihan akan menjadi sebuah upaya untuk mengembangkan karakter siswa yang baik jika dilakukan dengan memegang prinsip-prinsip 4K berikut:
1. Komitmen (commitment), merupakan kesepakatan dan keteguhan dari seluruh stakeholder untuk melaksanakan RML dengan efektif dan efisien.
2. Kontinuitas (continue), artinya sikap yang diharapkan melalui regulasi yang disepakati harus dilakukan terus menerus, bahkan terus diulang-ulang sampai sikap dan karakter itu tumbuh dan tampak kelihatan dalam perilaku.
3. Konsistensi (consistense). Agar RML berbekas dan menghasilkan karakter yang diharapkan harus dilakukan dengan konsisten
4. Kontrol (controling), sebagai upaya untuk mengukur dan mengevaluasi keberhasilan siswa dengan menggunakan alat evaluasi yang akuntabel dan valid.
RML dan 4K jika dilaksankan dengan penuh kesungguhan dan menjadi perhatian semua pihak, insya allah akan meningkatkan karakter siswa, apalagi usia Sekolah Dasar merupakan masa yang tepat untuk mengenalkan dan memahamkan tentang karakter.
Sikap dan perilaku, kreatifitas, ide sebagai hasil dari sebuah sikap dan perilaku akan mendapatkan PAHALA.

Tanamkan buah pikiran, dan anda akan menuai tindakan. Tanamkan tindakan, dan anda akan yo kebiasaan. Tanamkan kebiasaan dan anda akan menuai karakter. Tanamkan karanter dan anda akan menuai keuntungan.(charles Reade)

To be continue…