Membawa Tumpeng Tradisi Samenan di SDN Margawati

0
339

KANDAGA.ID – Acara samenan sekolah di sebagian Kelurahan Margawati bisa dikatakan berbeda dengan daerah-daerah lain yang ada di Kabupaten Garut. Sebab, samenan atau “Paturay Tineung” atau perpisahan di wilayah ini masih kental dengan tradisi turun-temurun menyerahkan tumpeng.

Salahsatunya acara samenan yang digelar SDN 4 Margawati di Jl. Margawati, Kp. Cilandak, Kelurahan Margawati, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, yang melepas 43 pesera didik kelas 6 tahun ajaran 2018-2019.

Kepala SDN 4 Margawati, Tata Abdurrahman, S.Pd.SD., mengatakan, acara samenan di sekolah yang dipimpinnya, masing-masing anak yang lulus membawa dan memberikan “tumpeng” serta makanan lainnya kepada sekolah.

“Orang tua anak yang lulus membawa satu “tumpeng” dan lainnya untuk diberikan kepada sekolah, dan mereka pun mebawa makanan untuk dimakan bersama-sama keluarga mereka masing-masing,” terang Tata di ruang penjamuan makan tamu, Rabu (19/6/2019).

Menurut Tata, tradisi ini turun-temurun sejak dahulu kala dilakukan oleh warga masyarakat yang anaknya selesai menempuh pendidikan di lingkungan SDN 4 Margawati, namun sekarang seiring waktu tradisi membawa tumpeng sudah berubah dalam bentuk rantang.

“Tradisi ini hanya ada di tiga sekolah yang di Kelurahan Margawati, yaitu SDN 3, 4, dan 5 Margawati, sedangkan SDN Margawati yang lain tradisi ini tidak pernah terdengar,” jelasnya.

Tradisi samenan ini bagi masyarakat merupakan acara tahunan yang patut dirayakan, banyak kreasi seni dan budaya tradisional dipentaskan, bahkan sekarang pun perayaan kelulusan ini dipadukan dengan kreasi seni modern, sehingga tak ayal acara samenan hingga sore hari. Bahkan menurut sebagian warga, beberapa tahun yang telah lalu, acara samenan digelar satu hari satu malam.

“Para pendahulu mereka sangat sulit dan jarang ada anak sampai lulus atau menamatkan sekolah. Sehingga bisa dikatakan bahwa tradisi memberikan tumpeng pada perayaan samenan ini bisa dikatakan sebagai bentuk rasa syukur orang tua, anaknya telah lulus sekolah. Dan acara samenan ini sangat dinanti-nanti dan dibanggakan oleh masyarakat seperti perayaan Agustusan,” ujarnya.

Prosesi acara samenan diawali dengan menggelar upacara adat Sunda “sungkeman”, serah terima peserta didik dari sekolah ke komite sekolah sebagai perwakilan orang tua sebelum diserahkan kepada prang tua masing-masing.

“Selain pengalugan medali kelulusan, juga diberikan berbagai hadiah dan piagam penghargaan bagi mereka yang meraih prestasi dan 6 besar ranking kelas mulai dari kelas 1 hingga kelas 6,” punkasnya.

Sementara itu, hal yang sama diakui Kepala SDN 5 Margawati, Diat, S.Pd.SD., perayaan samenan di sekolah yang dipimpinnya yang melepas 11 peserta didik tahun ajaran 2018-2019 juga sama tradisinya seperti SDN 4 Margawati.

Menurut Diat, tradisi samenan ini memiliki kesan tersendiri bagi masyaraakat dengan membawa dan menyerahkan tumpeng kepada sekolah. Bahkan dirinya mengalami sendiri sejak tahun 1975, ketika lulus sekolah di SD Neglasari yang sekarang SDN 3 Margawati.

“Dulu di Margawati ini hanya ada satu sekolah yaitu SD Neglasari, tradisi ini sudah ada sejak dulu, bahkan perayaan samenan ini dulu di gelar selama satu hari satu malam, siang menampilkan berbagai pentas seni dan malam biasanya calung dan wayang golek,” jelasnya.

Diat menjelaskan, perayaan samenan ini sebagai tradisi hajat tahunan dan semuanya itu merupakan keinginan orang tua siswa, segala sesuatunya ditaggung komite, sekolah hanya memfasilitasi saja.

“Keinginan komite segala kesenian dan budaya yang ada ingin ditampilkan, mulai wayang golek, terebang dan lainnya. Namun sekarang perayaan samenan kami batasi hanya siang hari, tidak satu hari satu malam,” pungkasnya. (Jajang Sukmana)***