Kungjungi Korban Banjir Bandang di Garut, Diky Chandra: Sudah Saatnya Kita Lebih Menjaga Keseimbangan Alam

0
203
Dicky Chandra saat berdialog dengan warga korban banjir bandang di Kampung Cikisik, Kaum Lebak.
Dicky Chandra saat berdialog dengan warga korban banjir bandang di Kampung Cikisik, Kaum Lebak.
Dicky Chandra saat berdialog dengan warga korban banjir bandang di Kampung Cikisik, Kaum Lebak.

Mantan wakil bupati Garut Rd Diky Candra mengunjungi korban bencana banjir bandang di kota Garut, Kamis (22/09). Diky Candra mengunjungi beberapa titik bencana banjir bandang, diantaranya RSUD dr Slamet Garut, Asrama TNI Lapang Paris, Cimacan dan terakhir mengunjungi kp. Cikisik kelurahan Paminggir.

Di Kp. Cikisik kaum lebak ini Diky Candra disambut warga dan korban yang tak menyangka kedatangan calon walikota Tasikmalaya ini. Sebagian besar warga meminta berfoto bersama mantan wakil bupati era Bupati Aceng Fikri ini. Selain mengunjungi posko bantuan di Pos RW 8 Kaum lebak, Diky juga mendatangi tempat penampungan korban di mesjid Ar-Rivan, selanjutnya Diky mengunjungi langsung lokasi terdampak di kp. Cikisik. Dalam kunjungannya berbarengan juga dengan penemuan mayat wanita tua berumur sekitar 60 tahun di reruntuhan bangunan korban terjangan sungai Cimanuk.

Diky yang diwawancarai wartawan mengatakan bahwa persoalan banjir atau bencana lainnya ada hitung hitungan atau ilmu alam yang dibuat para leluhur, namun oleh sebagian besar orang mungkin dianggap kuno, tapi sebetulnya sangat bermanfaat untuk kita mengenali alam, mengantisipasi jika alam murka.

“Mudah mudahan kemajuan alam atau kemajuan teknologi, dengan makin banyaknya orang pintar dengan banyak gelar, tidak melupakan kultur atau budaya yang ada di tiap daerah, utamanya di tatar sunda, khususnya di Garut,” ujar Diky.

Diki menjelaskan, sungai Cimanuk ini berkaitan dengan 4 kabupaten yaitu Garut sebagai hulu dan hilirnya ada di Sumedang, Majalengka dan Indramayu, semua kabupaten itu harus bisa merawat sungainya.

“Jika melihat bencana banjir badang yang terjadi saat ini, kecil kemungkinan secara akal sehat luapan ari bisa setinggi ini, tapi mungkin ada hitungan hitungan alam yang dilanggar jadi terjadilah seperti ini,” ujarnya.

Diki berpendapat, ada beberapa hal yang mungkin harus dipikirkan oleh para ahli, mereka harus berkolaborasi, karena yang terjadi saat ini bukan mistis tapi sains, pasti ada solusi dan antisipasi untuk menangkal bencana seperti ini supaya tidak terjadi lagi.

“Mudah mudahan pemerintah pusat, provinsi dan daerah bersinergi agar bisa saling membantu, semoga presiden dan gubernur segera membantu 4 kabupaten yang dilalui sungai Cimanuk supaya bisa ditata sungai cimanuknya,” harap Diky.

Diki juga berpendapat, hari ini bukan konteks menyalahkan orang atau pihak lain, tapi memperbaiki kerusakan yang terjadi sekarang,

“jangan suka menyalahkan kalau air mampir ke rumah kita, karena jalan airnya kita halangi,” pungkasnya.(Yuyus)***