Kepala BBWS: Kondisi hutan di hulu Sungai Cimanuk Kritis, Reboisasi dan Normalisasi Sungai Harus Segera Dilakukan!

0
119
kondisi kampung Cimacan sesaat setelah diterjang banjir bandang foto diambail dari udara menggunakan pesawat nirawak , Rabu pagi (20/09). Foto: Agus Muhram/Kdg.
kondisi kampung Cimacan sesaat setelah diterjang banjir bandang foto diambail dari udara menggunakan pesawat nirawak , Rabu pagi (20/09). Foto: Agus Muhram/Kdg.
kondisi kampung Cimacan sesaat setelah diterjang banjir bandang foto diambail dari udara menggunakan pesawat nirawak , Rabu pagi (20/09). Foto: Agus Muhram/Kdg.

Ketika hutan di hulu sungai rusak, pasti memberikan dampak negatif.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung, Mochamad Mazid mengatakan, keberadaan air dari sisi kualitas dan kuantitas sangat berkaitan erat dengan kualitas lingkungan.

Mazid memaparkan, Sungai Cimanuk memiliki panjang sekitar 280 km dengan belasan hulu yang berasal dari Gunung Papandayan dan Gunung lainya di Garut. salah satu penyebab banjir, kata dia, akibat tutupan kawasan konservasi di hulu DAS Cimanuk kondisi sudah rusak berat.

Ketika terjadi hujan di lokasi yang banyak pepohonannya, seharusnya air bisa terserap  dan tersimpan di dalam tanah. Pada saatnya akan dialirkan sesuai dengan kebutuhan.

“Sekarang dengan kondisi hutan yang sudah sedemikian kritis, salah satu dampaknya ketika intensitas curah hujan menjadi tinggi itu sudah menjadi aliran permukaan. Apalagi saat terjadi banjir di Garut curah hujan sangat tinggi, akan menimbulkan dampak yang signifikan” terangnya.

Menurutnya harus dilakukan dua hal yang sangat prinsip. Pertama, upaya struktural seperti melakukan normalisasi dan penguatan tebing sungai yang kritis harus segera ditangani. Kedua, lanjut dia, yang tidak kalah pentingnya melakukan yakni upaya non struktural melakukan reboisasi.

Mazid menerangkan, untuk meminimalisir korban banjir, daerah sempadan (bibir) sungai itu sebetulnya bukan untuk kawasan hunian. Agar saat air meluap tidak menimbulkan korban jiwa. Tapi faktanya di lapangan sempadan sungai ini sering dijadikan kawasan hunian.

“Kami tidak pada posisi menyalahkan siapa – siapa. Ayo kita sama – sama menjadikan ini pelajaran dan bekerja sama. Kalau aturanya tidak boleh kenapa harus menjadi hunian,” katanya.

Menurutnya, sebanyak 60 persen yang seharusnya menjadi kawasan hijau sudah jadi kawasan terbuka di wilayah Gunung Papandayan. Ketika hutan di hulu sungai rusak, pasti memberikan dampak negatif.

Mazid mengatakan Sungai Cimanuk bukan tidak pernah banjir. Pada saat itu tahun 2002 pernah banjir tetapi tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, seiring berjalannya waktu terjadi degradasi lingkungan yang luar biasa dan okupasi lahan sepadan sungai  menjadi kawasan hunian menjadi tak terkontrol. Dan akibatnya seperti Selasa (20/09/2016) kemarin, banjir bandang pun terjadi.