Implementasi Pasal 31, Perda No. 11 Tahun 2011 Berpeluang Menuai Masalah

0
139

 Perda 11 tahun 20011

PEMBATASAN masa jabatan kepala sekolah ataudikenal dengan istilah periodisasi sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 11 Tahun 2011, pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Garut. Namun sangat disayangkan dalam penerapannya, Pemerintah Kabupaten Garut terkesan masih “setengah hati”. Hal itu dapat dilihat dari adanya beberapa pasal dalam Perda 11 yang tidak dilaksanakan dengan benar. Akibatnya, pasca pen-erapan Perda 11 pada Bulan Juli 2015 berbagai per-soalan muncul terrmasuk protes dari para kepala sekolah yang berujung di PTUN.

Berkaca dari kejadian tahun lalu, dalam penerapan Perda 11 khususnya pembatasan masa tugas kepa-la sekolah yang rencananya akan dilaksanakan pada Bulan Agustus tahun ini, pihak Dinas Pendidikan sangat hati-hati. Dalam menerapkan Pasal 31 misal-nya. Menurut informasi yang diterima “Kandaga”, pihak Dinas Pendidikan sepertinya masih ragu-ragu. Beberapa pihak yang sempat diminta pendapatnya mengaku sangat sulit dan membingungkan dalam mengimplementasikan pasal tersebut.

Seperti diketahui, dalam pasal 31 Perda 11 Tahun 2011 ada klausul yang menyatakan, bahwa kepala sekolah yang sudah melaksanakan dua kali masa tugas berturut-turut dapat ditugaskan kembali di sekolah yang akreditasinya lebih rendah, apabila kepala sekolah tersebut memiliki prestasi istimewa. Dijelaskan pula dalam pasal tersebut, bahwa yang dimaksud prestasi istimewa kepala sekolah adalah memiliki nilai kinerja amat baik dan memiliki prestasi yang relevan dalam bidang pendidikan di tingkat provinsi atau nasional.

Pasal tersebut dinilai masih abu-abu dan berpelu-ang menuai masalah. Hal itu sangat mungkin terja-di, karena dalam pasal 31 Perda 11 Tahun 2011 tidak dijelaskan yang dimaksud prestasi yang rele-van di tingkat provinsi atau nasional.

Beragam pendapat muncul, terutama dari pihak-pihak yang berkepentingan. Salah satu di antaranya ada yang mengatakan bahwa prestasi yang dimak-sud adalah prestasi individu kepala sekolah atau sekolah yang dipimpinnya (bukan prestasi guru atau siswa). Ada juga yang menafsirkan, bahwa prestasi siswa atau guru pun bisa dijadikan sebagai prestasi kepala sekolah. Kedua-duanya cukup beralasan. Namun yang patut dipahami dalam polemik tersebut adalah kata kunci dari pasal 31, yaitu prestasi istimewa. (***)