Garut Lautan Api, Jejak Perjuangan yang Terlupakan

1
1001
Bangunan Djawatan Listrik dan Gas Garoet pun terbakar, yang disebut sebagai kerusakan akibat perang. Apakah gedung ini yang sekarang ditempati PLN di Jalan Pramuka sekarang? (Judul foto: Verblijf en optre-den van het 3e Bataljon Regiment Stoottroepen in Nederlands-Indië. Oorlogsschade in Garoet. Tahun: antara 1946-1949). Sumber: Stoottroepen Museum)
Gedung penjara Garoet (sekarang Rutan Garut) nampak luput dari upaya pembakaran. Namun tak bisa terhindar dari coretan dan lukisan dinding: “Teroes berdjoang oentoek keselamatan bersama.” (Sumber: Gahetna.nl)

Tak ada yang bisa menyangkal, jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, Garut sudah menjadi buah bibir banyak orang. Keindahan alamnya serta sumber daya alam yang melimpah membuat banyak pihak terpikat. “Swiss Van Java” inilah julukan yang disematkan untuk menggambarkan kemolekan salah satu wilayah di tanah priangan yang secara administratif memiliki luas 3.065,19 km².

PENGAKUAN akan keindahan Garut bahkan terucap langsung dari Presiden RI yang pertama, Ir. Soekarno yang memberi nama indah yang terpatri hingga sekarang “Garut Kota Intan”. Tak hanya itu sejumlah pesohor dunia juga pernah terpesona dengan Garut, sebut saja salah satunya adalah Charlie Chaplin. Komedian dan aktor yang mempelopori lahirnya industri film dunia ini bahkan mengunjungi Garut sampai dua kali yaitu pada tahun1927 dan 1935.

Ternyata tak hanya keindahan alamnya yang membuat Garut mendapat tempat istimewa dalam perjalanan sejarah Republik Indonesia. Lebih dari itu, nasionalisme masyarakatnya dalam perjuangan kemerdekaan juga ternyata sangat militan. Sayangnya tak banyak catatan sejarah yang menceritakan tentang hal ini. Meski begitu tidak berarti serpihan-serpihan jejak perjuangan rakyat Garut itu hilang begitu saja.

Seorang putra Garut yang bernama Mochamad Satria, atas nama rasa cinta untuk tanah kelahirannya berhasil mengumpulkan sejumlah dokumen tentang Garut tempo dulu. Beberapa koleksinya mengabarkan tentang peristiwa-peristiwa heroik dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Lewat tulisan yang dimuat di situs naratasgaroet.wordpress.com, ia mengungkap tentang peristiwa “Garut Lautan Api”. Lewat tulisan yang dilengkapi sejumlah foto, tergambar jelas, tepat sesudah dua tahun proklamasi kemerdekaan RI dan enam bulan sesudah peristiwa Bandung Lautan Api, tepatnya bulan Oktober 1947, sejumlah laskar perjuangan di Garut membumi hanguskan beberapa bangunan strategis yang dikhawatirkan akan dikuasai NICA yang memboncengi Belanda dalam peristiwa Agresi Militer 1.

Dalam situs pribadinya, Mochamad Satria menulis, belum genap dua tahun Republik Indonesia merdeka, kota Garut kembali dikuasai oleh tentara Belanda. Sebagai bagian dari aksi Agresi Militer I, tentara Belanda dari C-Divisie 7 December , khususnya satuan-satuan yang tergabung dalam 3e Infanterie Brigade Groep (Brigade Infantri ke-3), pada tanggal 12 Agustus 1947.

Resminya, Agresi Militer pertama yang oleh pihak Belanda disebut sebagai Aksi Polisionil (“Politioneel Actie”) itu berlangsung dari tanggal 21 Juli 1947 sampai dengan 5 Agustus 1947. Tapi pada kenyataannya, aksi pendudukan itu terus berlanjut. Brigade Infantri ke-3 ini bergerak dari Cirebon, Kuningan, dan melalui Tasikmalaya terus ke Garut. Dan Garut pun dikuasai justru pada tujuh hari setelah pengumuman penghentian “Aksi Polisionil”.

Atas desakan dunia internasional, Pemerintah RI dan Belanda sepakat akan melakukan perundingan yang dikenal kemudian sebagai Persetujuan Renville. Secara resmi, mulai 17 Agustus 1947 dinyatakan berlaku gencatan senjata, sampai dengan ditanda tanganinya perjanjian itu. Tapi di lapangan, pertempuran terus terjadi, antara tentara Belanda dengan laskar-laskar dan TNI.

***

Tujuan utama agresi Belanda adalah merebut daerah-daerah perkebunan yang kaya dan daerah yang memiliki sumber daya alam, terutama minyak. Dan Garut adalah salah satu daerah perkebunan utama sejak masa Hindia Belanda. Pada saat itu setidaknya terdapat 22 perkebunan besar di Garut. Tertera pada piagam itu nama-nama perkebunan: Arinem, Bandjarwangi, Boenisari Lendra, Dajeuh Manggoeng, Giriawas, Goenoeng Badega, Juliana, Miramare, Nagara, Neglasari G. Gadjah, Pamegatan, Tjilaoet, Tjisaroeni, Tjisompet, Tjondong, Waspada, Bangsasinga, dan G. Satria. Mereka jelas-jelas memihak aksi Belanda.

Untuk menjamin posisi Belanda di Garoet itu, Mayor Jenderal H.J.J.W. Dürst Britt, komandan C-Divisie “7 December”, pun tak segan langsung turun ke Garut untuk  melakukan  inspeksi.  Bahkan  sampai  ke Pameungpeuk, meninjau lapangan terbang (Vliegveld). Berdasarkan keputusan Perjanjian Renville, pasukan TNI dari Divisi Siliwangi harus meninggalkan wilayah Jawa Barat selambat-lambatnya pada Februari 1948. Belanda pun kemudian menguatkan posisi status quo-nya di Garut. Sampai dengan bulan Oktober 1947, nampaknya pertempuran masih terjadi di Garut. Pasukan TNI dan laskar melakukan perlawanan dan membakar banguan-bangunan strategis yang potensial akan digunakan Belanda. Dalam tulisannya, pendiri Komunitas Garut Heritage ini menyimpulkan, dalam skala kecil peristiwa serupa Bandung Lautan Api terjadi juga di Garut. Berikut kami lampirkan foto-foto dokumentasi yang diperoleh Mochamad Satria dari sejumlah sumber sumber :

Mayor Jenderal Britt juga diketahui melakukan inspeksi ke lapangan udara (vliegveld) Pameungpeuk pada 24 Oktober 1947. (Judul foto: Mevrouw Gideon in gesprek met generaal-majoor H.J.J.W. Dürst Britt op het vliegveld Pameungpeuk. Tahun: sekitar 1946-1950. Sumber: Gahetna.nl)
Mayor Jenderal Britt juga diketahui melakukan inspeksi ke lapangan udara (vliegveld) Pameungpeuk pada 24 Oktober 1947. (Judul foto: Mevrouw Gideon in gesprek met generaal-majoor H.J.J.W. Dürst Britt op het vliegveld Pameungpeuk. Tahun: sekitar 1946-1950. Sumber: Gahetna.nl)
Death NICA. (Judul Foto: Verblijf en optreden van het 3e Bataljon Regiment Stoottroepen in Nederlands-Indië. Republikeinse opschriften en propagan-da. Tahun: 10 Oktober 1947. Sumber: Stoottroepen Museum)
Death NICA. (Judul Foto: Verblijf en optreden van het 3e Bataljon Regiment Stoottroepen in Nederlands-Indië. Republikeinse opschriften en propagan-da. Tahun: 10 Oktober 1947. Sumber: Stoottroepen Museum)
Mayor Jenderal Britt (kanan) sedang melakukan inspeksi pasukan di Garoet pada 23 Oktober 1947. (Judul foto: Garoet: Generaal Dürst Britt (rechts) op inspectiereis in het gebied, dat door de 3e Inf. Brig. wordt gezuiverd. In het midden de Brigade-Cdt. Kol. Lentz. Tahun: 23 Oktober 1947, Sumber: Gahetna. nl)
Mayor Jenderal Britt (kanan) sedang melakukan inspeksi pasukan di Garoet pada 23 Oktober 1947. (Judul foto: Garoet: Generaal Dürst Britt (rechts) op inspectiereis in het gebied, dat door de 3e Inf. Brig. wordt gezuiverd. In het midden de Brigade-Cdt. Kol. Lentz. Tahun: 23 Oktober 1947, Sumber: Gahetna. nl)

Foto hasil jepretan Thilly Weissenborn ini menggambarkan bangunan yang rusak akibat perang. Bangunan ini sebelumnya adalah sebuah toko buku yang terletak di depan Societeit Inta Montes di Societeitstraat. Dari papan depan bangu-nan ini tertera nama (lebih jelas pada foto kedua) Kantor Peroemahan Repoeblik Indonesia (KAPRI). (Judul foto: Beschadigd gebouw te Garoet, Tahun: sekitar 1947, Sumber: KITLV).

Keadaan di bagian peron stasiun Garoet pasca pembakaran. (Judul foto: Verblijf en optreden van het 3e Bataljon Regiment Stoottroepen in Nederlands-Indië. Vernielingen op het station van Garoet. Tahun: 10 Oktober 1947. Sumber: Stoottroepen Museum)
Keadaan di bagian peron stasiun Garoet pasca pembakaran. (Judul foto: Verblijf en optreden van het 3e Bataljon Regiment Stoottroepen in Nederlands-Indië. Vernielingen op het station van Garoet. Tahun: 10 Oktober 1947. Sumber: Stoottroepen Museum)
Foto ini pun tidak diberikan keterangan yang cukup. Tampak coretan “Pemoeda marilah kita berdjoang” dan “Igama” di dinding bangunan. (Sumber: Gahetna.nl)
Foto ini pun tidak diberikan keterangan yang cukup. Tampak coretan “Pemoeda marilah kita berdjoang” dan “Igama” di dinding bangunan. (Sumber: Gahetna.nl)
Foto ini pun tidak diberikan keterangan yang cukup. Tampak coretan “Pemoeda marilah kita berdjoang” dan “Igama” di dinding bangunan. (Sumber: Gahetna.nl)
Foto ini pun tidak diberikan keterangan yang cukup. Tampak coretan “Pemoeda marilah kita berdjoang” dan “Igama” di dinding bangunan. (Sumber: Gahetna.nl)
Stasiun kereta api Garoet termasuk bangunan strategis yang dihancurkan. Tampak depan stasiun Garoet di tahun 1947. (Judul foto: Verblijf en optreden van het 3e Bataljon Regiment Stoottroepen in Nederlands-Indië. Vernielingen op het station van Garoet. Tahun: 10 Oktober 1947. Sumber: Stoottroepen Museum)
Stasiun kereta api Garoet termasuk bangunan strategis yang dihancurkan. Tampak depan stasiun Garoet di tahun 1947. (Judul foto: Verblijf en optreden van het 3e Bataljon Regiment Stoottroepen in Nederlands-Indië. Vernielingen op het station van Garoet. Tahun: 10 Oktober 1947. Sumber: Stoottroepen Museum)
Sumber foto ini tidak memberikan keterangan banyak. Hanya disebutkan berlokasi di Garoet. Hotel Villa Dolce kah? (Sumber: Gahetna.nl)
Sumber foto ini tidak memberikan keterangan banyak. Hanya disebutkan berlokasi di Garoet. Hotel Villa Dolce kah? (Sumber: Gahetna.nl)
Kantor KAPRI, nampak dari samping. (Judul foto: Kantoor van de KAPRI te Garoet, Tahun: sekitar 1947, Sumber: KITLV).
Kantor KAPRI, nampak dari samping. (Judul foto: Kantoor van de KAPRI te Garoet, Tahun: sekitar 1947, Sumber: KITLV).
Bangunan Djawatan Listrik dan Gas Garoet pun terbakar, yang disebut sebagai kerusakan akibat perang. Apakah gedung ini yang sekarang ditempati PLN di Jalan Pramuka sekarang? (Judul foto: Verblijf en optre-den van het 3e Bataljon Regiment Stoottroepen in Nederlands-Indië. Oorlogsschade in Garoet. Tahun: antara 1946-1949). Sumber: Stoottroepen Museum)
Bangunan Djawatan Listrik dan Gas Garoet pun terbakar, yang disebut sebagai kerusakan akibat perang. Apakah gedung ini yang sekarang ditempati PLN di Jalan Pramuka sekarang? (Judul foto: Verblijf en optre-den van het 3e Bataljon Regiment Stoottroepen in Nederlands-Indië. Oorlogsschade in Garoet. Tahun: antara 1946-1949). Sumber: Stoottroepen Museum)
Kantor Pos pun tak luput dari sasaran bumi hangus. (Judul foto: Het beschadigde postkantoor te Garoet, Tahun: sekitar 1947, Sumber: KITLV).
Kantor Pos pun tak luput dari sasaran bumi hangus. (Judul foto: Het beschadigde postkantoor te Garoet, Tahun: sekitar 1947, Sumber: KITLV). *** Herdy Pranadinta (disarikan dari tulisan Moch Satria)