Garut Konsisten Perjuangkan Gelar Pahlawan Nasional

0
261
Prof KH Anwar Musaddad, putera terbaik Garut yang diusulkan menjadi pahlawan Nasional (net)
Prof KH Anwar Musaddad, putera terbaik Garut yang diusulkan menjadi pahlawan Nasional (net)

Beberapa kali gagal, tak menghalangi pemerintah daerah (Pemda) Garut, Jawa Barat kembali mengajukan Raden Ayu Lasminingrat dan Prof. KH Anwar Musaddad kepala pemerintah pusat, sebagai pahlawan nasional dari Garut.

“Tahun depan kita akan ajukan lagi, tahun lalu kan kekurangannya soal materilnya, saya sendiri tidak tahu apa itu,” ujar Bupati Garut Rudy Gunawan, kemarin.

Menurutnya, masyrakat Garut sangat merindukan adanya sosok pahlawan nasional dari Garut, upaya itu penting untuk menumbuhkan semangat juang bagi masyarakat dan generasi selanjutnya. “Kalau menurut kami kedua tokoh itu sudah layak menjadi pahlawan nasional,” ujar dia.

RA Lasminingrat (wikipedia)

Sebelumnya, Garut telah mengajukan dua sosok pejuang asli Garut kepada pemerintah agar dianugerasi pahlawan nasional, mereka adalah Raden Ayu Lasminingrat, salah satu tokoh tokoh literasi apada era sebelum kemerdekaan yang karyanya kerap ditemukan di Belanda, sedangkan Prof KH Anwar Musaddad, merupakan ulama kharismatik yang menguasai beberapa bahasa hingga kerap dikenal sebagai penerjemaah utama Presiden Soekarno pada masanya.

Namun sayang hingga kini kedua tokoh itu belum mendapat pengakuan dari pemerintah pusat. Kurangnya data material kedua sosok itu diduga merupakan pengganjal utama diterbitkannya kriteria pahlawan nasional bagi keduanya. “Misalkan saat memegang senjata, ya dokumen seputar itu pokoknya kekurangannya syarat materil,” ujar Rudy menambahkan.

RA Lasminingrat memang sebuah kebanggaan bgagi masyarakat Garut hingga kini. Sosok istri mantan Bupati Garut Arianudatar ini, sejak lama dikenal sebagai tokoh literasi nasional, bahkan banyak karyanya yang telah diterjemaahkan dalam bahasa Belanda, jauh sebelum Kartini (1879) dan Dewi Sartika (1884) lahir..

Namun sayang, minimnya dokumen pendukung tanah air seperti manuskrip dan karya asli lainnya yang tersimpan di perpustakaan nasional, menyebabkan data otentik salah satu tokoh di bidang penulisan dan pendidikan perempuan pertama ini sulit dilacak keberadaannya. Hingga Pada 1871 ia kembali ke tanah air dan menetap di Pendopo Kabupaten Garut hingga menjelang hayatnya.

Sementara itu, Profesor KH Anwar Musaddad adalah salah satu tokoh ulama yang cukup disegani hingga kini, ketokohan dan keilmuannya bahkan hingga kini masih diakui salah satu yang terbaik di Garut. Lembaga pendidikan terbesar Al-Musaddadiyah, Universitas Garut (Uniga), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulloh (UIN) di Bandung, merupakan salah satu bukti hasil tangan dingin KH Anwar Musaddad dalam pengembangan pendidikan tanah air. *** Farhan SN