Dzaki Fadullah Mutaqin, Fotografer Otodidak yang Sarat Prestasi

0
328

KANDAGA.ID – Remaja berprestasi ini bernama Dzaki Fadhullah Mutaqin. Ia dilahirkan di Garut, 14 Juli 2001 dari pasangan Jenal Mutaqin dan Dewi Sartika. Sejak SD sulung dari empat bersaudara ini dikenal sebagai siswa berprestasi. Saat duduk di SDN 2 Pasawahan Dzaki pernah menjadi Juara empat OSN matematika. Begitu juga saat menjadi siswa di SMPN 1 Garut, Dzaki selalu masuk lima besar dikelasnya, bahkan dua kali menjadi rangking 1 di kelasnya.

Selain berprestasi di bidang akademik, Dzaki ternyata juga berbakat dalam bidang non akademik salah satunya fotografi. Senang memotret sejak SMP, bakatnya semakin terasah saat masuk di Jurusan Multimedia di SMKN 2 Garut. Ia yang awalnya belajar fotografi secara otodidak, kemampuannya semakin terasah setelah dibimbing para gurunya di sekolah. Dari situ berbagai perlombaan fotografi mulai diikutinya, bahkan tercatat pernah menjadi Juara II se-Kabupaten Garut dalam lomba fotografi yang diselenggarakan Himadiktikom IPI Garut.

”Awalnya saya belajar secara otodidak, salah satunya dengan melihat konten-konten fotografi di youtube,” akunya, melalui WhatsApp (WA), Selasa (26/3/2019).

Dzaki mengaku dari hobinya ini banyak pengalaman berharga yang diperoleh, salah satunya saat terpilih menjadi tim dokumentasi Asian Games 2018. Dzaki bercerita, satu waktu ayahnya mengabari, PT Reka Citra Indonesia yang menangani panggung megah nan mewah Asian Games 2018 sedang membutuhkan fotografer. Dengan dukungan ayahnya, Dzaki memberanikan diri untuk mengikuti tes, meski mengaku gugup Dzaki dinyatakan lolos tes dan diterima menjadi bagian dari tim tersebut.

“Sungguh pengalaman luar biasa yang tak akan terlupakan, saat itu selama tiga bulan di Jakarta menjadi bagian tim dokumentasi Asian Games. Selama itu saya banyak belajar banyak bahkan bisa bertemu dengan orang-orang hebat salah satunya Dirut Net TV Pak Wishnutama. Alhamdulillah sepulang di sana saya mendapatkan ilmu yg sangat berharga dan membawa pulang 1 buah drone phantom 4 dan satu zhyun crane 2,” kenangnya.

Prestasi Dzaki ternyata mendapat apresiasi dari Kepala SMKN 2 Bejo siswoyo, S.TP., M.Pd beserta semua guru dan teman-temannya. Kesempatan dan kepercayaanpun semakin terbuka untuknya, Dzaki mulai mendapat tawaran untuk menangani job dokumentasi seperti wedding, prewedding, acara ultah, atau gathering.

”Suatu saat dari Satlantas Polres Garut membutuhkan seorang pilot drone untuk operasi lilin 2018, saya mencoba mendaftar dan ikut dalam operasi tersebut sebagai tim dokumentasi di TMC Polres Garut dan Alhamdulillah semenjak saya bergabung saya mendapatkan pelajaran yg berharga juga di bidang jurnalis kepolisian, dan Alhamdulillah sampe sekarang saya masih bersama TMC Polres Garut,” tambahnya.

Tak sampai disitu, Dzaki juga bersama dua temannya, yaitu Abimanyu darmawan dan James riyadi mengembangkan suatu aplikasi Augment Reality (AR) tentang kebudayaan di Kabupaten Garut. Karyanya ini juga mendapat apresiasi dari Wagub Jabar dan Wakil Bupati Garut.

”Aplikasi yang kami buat yaitu menguak tempat pariwisata dan kebudayaan di Kabupaten Garut seperti batik Garutan, Candi Cangkuang, Domba Garut dll,” ujarnya.

Meski sudah terbilang berhasil di usianya yang masih belia, Dzaki mengaku belum merasa puas, bahkan bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri agar bisa mengembangkan penerapan teknologi kemultimediaan di Kabupaten Garut .”Pesan saya untuk semua generasi millennial, ayo buat masa mudamu bermanfaat dan jadikan semua pengalaman itu pelajaran dan terus lah mencoba jangan takut gagal untuk mencapai sebuah kesuksesan,” pungkasnya. (Jajang Sukmana)***