Catatan Sewindu Kandaga

0
283
Inilah Jaleuleu, majalah anak-anak dn remaja berbahasa Sunda satu-satunya di Jawa Barat

Oleh Darpan

(Redaktur Senior Kandaga & Redaktur Pelaksana Jaleuleu)

Redaktur Pelaksana Jaleuleu

 

Kami berbincang santai, awal tahun 2009. Sengaja kami berkumpul sambil santap siang di sebuah rumah makan, di pinggir Jl. Pembangunan, tak jauh dari Kantor Dinas Pendidikan. Beberapa orang ikut rembugan dalam riungan. Kebetulan mereka adalah orang-orang yang terlibat langsung dan peduli dengan perkembangan pendidikan di Kabupaten Garut.

Mereka adalah Drs. H. Komar M., M.M.Pd. (saat itu menjabat Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut), Drs. H. Duden Surachman, M.Si. (Saat itu Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Garut), H. Jaja Jafar, M.Pd. (saat itu salah seorang Kasi di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut), Sony MS, Naryana, Darpan (ketiganya saat itu masih guru SMP), dan Jajang Sukmana (desainer grafis).

Di antara persoalan yang jadi bahan diskusi kami adalah keprihatinan terhadap kondisi pendidikan di Kabupaten Garut yang ditunjukkan dengan IPM (Index Pembangunan Manusia) yang rendah. Ada niat kami memang, untuk ikut sumbang pemikiran, sasieureun sabeunyeureun ingin berkontribusi untuk mengubah keadaan agar lebih baik. Paling tidak, pikiran-pikiran kami bisa didengar oleh masyarakat.

Setelah bertukar pikiran, disepakati bahwa perlu sebuah media informasi, terutama dimaksudkan untuk memberi sebanyak-banyaknya informasi mengenai pendidikan agar berbagai kalangan memahami upaya-upaya pembangunan secara cepat dan tepat. Selain itu, media informasi bisa dijadikan sarana untuk saling tukar gagasan, tukar infromasi, dan tukar pengalaman antar pelaku pendidikan.

Maka pada bulan Juni 2009 terbitlah majalah Kandaga. Inilah yang kami maksudkan sebagai media informasi itu. Mengapa majalah, tidak koran? Bagi kami, koran terlalu tergesa-gesa. Perlu tenaga dan daya dukung fasilitas yang memadai. Sementara majalah – yang kemudian kami sepakati sebagai majalah bulanan – dapat dikelola secara lebih santai. Di samping ada pertimbangan juga bahwa majalah bisa lebih detil memberikan informasi, atau dalam bahasa jurnalistik informasinya bisa dikemas dengan deep news (berita mendalam).

Nama Kandaga sendiri saya yang mengusulkan. Kebetulan saat itu yang kami gagas adalah majalah yang bisa mewadahi topik-topik tentang pendidikan, pemuda, dan olahraga. Topik ini berkaitan dengan bidang-bidang yang dinaungi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Garut saat itu, sebelum dinas ini kemudian dibagi dua menjadi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Pemuda dan Olahraga. Nama Kandaga kemudian dipilih sebagai akronim dari “pendidikan, pemuda, dan olahraga”. Ketiga elemen tersebut, kami pikir sangat strategis untuk dikembangkan dalam membangun sumber daya manusia dan mempersiapkan generasi muda yang sehat.

Selain sebagai akronim, nama Kandaga juga akrab dalam budaya orang Sunda. Seperti diterangkan dalam Kamus Umum Bahasa Sunda terbitan LBSS, kandaga atau kanaga diartikan sebagai wadah berbentuk peti kecil untuk menyimpan barang-barang yang berharga. Yang disimpan dalam kandaga misalnya perhiasan atau jimat yang sangat diberharga.

Dalam berbagai cerita dongeng atau pantun Sunda, kandaga juga sering digunakan sebagai sarana atau tempat menyimpan bayi yang hendak diasingkan atau dibuang. Namun kandaga pula yang bisa mengantarkan bayi itu pada seseorang, hingga ia bisa selamat dan besar sebagai kesatria. Sebagai contoh, tokoh Ciung Wanara pernah disimpan di dalam kandaga dan dibuang ke sungai, sampai akhirnya ditemukan oleh Aki dan Nini Balangantrang yang merawatnya hingga dewasa.

Kami berharap nama Kandaga untuk majalah bulanan ini juga memiliki spirit seperti kandaga dalam budaya orang Sunda. Ia menjadi semacam tempat menyimpan “barang-barang yang berharga”, atau mungkin sebagai “penyelamat”. Terlalu muluk memang, namun paling tidak apa yang kami sajikan dalam majalah Kandaga ikut memberikan warna lain dalam membicarakan persoalan-persoalan pendidikan di Kabupaten Garut. Semacam cita-cita untuk menciptakan diskursus.

Kami yang meriung awal tahun 2009 itu ditasbihkan sebagai pendiri majalah Kandaga. Sementara lembaga yang dipercaya untuk mengelola majalah ini adalah Dewan Pendidikan Kabupaten Garut. Yang dipercaya menjadi pemimpin redaksinya adalah Sony MS. Selain itu, majalah ini dijadikan mitra Dinas Pendidikan Kabupaten Garut untuk tujuan-tujuan kemajuan pembangunan, terutama difokuskan pada dunia pendidikan, pemuda, dan olahraga. Sasaran majalah ini adalah lembaga-lembaga pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga menengah. Oplah majalah ini awalnya mencapai 4.200 eksemplar. Namun setelah dilakukan efisiensi oplah saat ini konstan di angka 2.100 eksemplar setiap terbitan.

Pada awal-awal penerbitannya, majalah Kandaga mengusung slogan “Kritis tapi Etis”. Maksud kami, informasi yang disampaikan tidak harus “baik-baik saja”. Sekali-kali kami bisa mengkritik berbagai kebijakan berkaitan dengan pendidikan, pemuda, dan olahraga. Namun, kritik-kritik tersebut mesti disampaikan dengan etis, yakni menjunjung noma-norma jurnalistik. Tidak asal kritik atau tidak asal menurunkan berita yang bombastis, tetapi kami akan menunjukkan sikap kritis tersebut dengan karya jurnalistik berdasarkan data, fakta, dan melalui konfirmasi pada pihak-pihak yang berkepentingan.

Sikap ini pula yang pada akhirnya menimbulkan beberapa friksi. Benturan kepentingan sempat terjadi beberapa kali selama majalah ini terbit. Misalnya saja, setiap ada pelantikan pejabat di lingkungan Dinas Pendidikan, atau pelantikan kepala sekolah, kami sering memberikan kritik dan sumbang saran agar pejabat yang dilantik benar-benar orang yang punya kompetensi, bukan sekedar menunjuk orang, berdasarkan track record yang kami miliki. Namun sikap seperti ini tenyata tidak selamanya seiring sejalan dengan pihak lain yang memiliki kepentingan berbeda.

Edisi pertama majalah ini terdiri dari 56 halaman yang dicetak pada kertas koran. Tahun ke-2 halamannya bertambah menjadi 64 dengan penambahan beberapa halaman warna (full color). Memasuki tahun ke-6, Kandaga tampil dengan kertas HVS dan 8 halaman warna. Sejak edisi awal hingga akhir, rubrikasi majalah ini didominasi oleh informasi-informasi seputar pendidikan, baik yang berskala lokal maupun global.

Slogan yang dijunjung oleh majalah pendidikan ini pun kemudian berubah menjadi “Cerdas Bermartabat” pada tahun ke-6. Sesuai selogan bari ini, harapan kami majalah ini bisa terlibat secara aktif dalam mencerdaskan masyarakat seraya mengedepankan cara-cara yang bermartabat. Salah satu latar belakangnya adalah karena sering muncul friksi, sebab kata “kritis” yang disematkan pada slogan sebelumnya seringkali diartikan negatif. Sikap “kritis” kami sering membuahkan dituding yang kurang baik.

Patut menjadi catatan bahwa kehadiran majalah Kandaga, suka atau tidak suka telah banyak mewarnai dunia pendidikan di Kabupaten Garut. Hingga usianya mencapai sewindu pada 2017 sekarang ini, majalah ini secara konsisten mendorong kemajuan dunia pendidikan dengan distribusi dan saling tukar informasi. Prestasi-prestasi di dunia pendidikan secara cepat disampaikan kepada masyarakat. Gagasan-gagasan baru, atau informasi terbaru di dunia pendidikan juga terakselerasi melalui artikel-artikel dengan ulasan mendalam. Wawancara berbagai pihak yang menjadi stake holder pendidikan ikut memberi prespektif yang berwarna. Dengan demikian, informasi bukan sekedar sesuatu yang harus diketahui, namun juga diberi sentuhan yang elegan.

Hal ini menjadi penting karena saat majalah ini digagas – bahkan hingga saat sekarang pun – sekolah sering dipaksa untuk membeli media-media (seperti koran, tabloid, atau majalah) yang isinya justru tidak berkaitan dengan dunia pendidikan. Bahkan tak sedikit koran dengan berita kriminal atau selebritis yang didesakkan untuk dibeli sekolah. Kami ingin Kandaga benar-benar menjadi bacaan warga sekolah, atau bacaan masarakat pendidikan, dan benar-benar diperlukan. Menjadi komitmen kami jika Kandaga harus konsisten pada niat awalnya untuk memberikan informasi yang sehat mengenai dunia pendidikan.

Oleh karena itu, walau terbit di daerah, sumberdaya manusia yang terlibat dalam penerbitan majalah ini harus memiliki kompetensi yang baik. Kompetensi ini menyangkut pemahaman mendalam terhadap dunia pendidikan dan pemahaman yang baik terhadap segi-segi jurnalistik. Jika majalah ini dapat bertahan hingga tahun ke-8, semua itu merupakan bagian dari usaha kami menjaga konsistensi terhadap kompetensi. Kami juga mendaftarkan Kandaga ke Perpustakaan Nasional untuk memperoleh ISSN (International Standard Serial Number) sebagai terbitan berkala yang diakui oleh lembaga otoritatif. Sejak edisi yang ke-3 tahun 2009, kami telah memperoleh ISSN dengan nomer 2085-8442.

Sejak berdiri, Kandaga terbit dwibahasa, yakni Indonesia dan Sunda. Untuk yang berbahasa Sunda kami mewadahinya dalam rubrik Dangiang. Namun sejak tahun 2015, rubrik Dangiang kami alihkan menjadi suplemen tersendiri. Suplemen ini masih berupa majalah, namun dikhususkan untuk bacaan anak-anak. Suplemen ini kami beri nama Jaleuleu. Keputusan ini kami ambil untuk menyiasati pengembangan lembaga sekaligus menyediakan bahan bacaan berbahasa Sunda bagi anak-anak di sekolah yang saat ini nyaris tidak ada. Tak satupun majalah anak-anak berbahasa Sunda yang belakangan terbit, setelah majalah Loka yang terbit di Tasikmalaya sekitar awal tahun 2010 bangkrut. Dengan demikian, Jaleuleu merupakan majalah anak-anak berbahasa Sunda yang terbit satu-satunya di dunia.

Untuk bisa sampai terbit hingga sewindu lamanya bukanlah perkara mudah bagi sebuah majalah. Setelah Orde Reformasi, menerbitkan majalah memang sangat mudah tetapi sangat sulit untuk bertahan dan bersaing. Fakta menunjukkan bahwa begitu banyak koran, majalah, atau tabloid muncul seperti jamur di musim hujan lalu berguguran dengan cepat. Bukan karena persoalan permodalan, namun lebih pada persaingan, manajemen, dan keberterimaannya di tengah-tengah masyarakat. Beruntunglah majalah Kandaga. Walau terbit secara lokal di sebuah kabupaten, namun majalah ini mampu bertahan hingga umurnya yang ke-8 tahun. Di Garut sendiri, sudah banyak koran muncul dan mati kembali, silih berganti. Namun Kandaga justru bisa mengembangkan sayapnya hingga mampu menerbitkan Jaleuleu. Ini adalah prestasi tersendiri bagi kami.

Inilah Jaleuleu, majalah anak-anak dan remaja berbahasa Sunda satu-satunya di Jawa Barat

Tentu kami harus berterima kasih kepada pihak-pihak yang selama ini mendukung dan ikut memfasilitasi Kandaga hingga bisa tetap bertahan hingga sekarang. Terutama kami harus berterima kasih kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Garut sebagai mitra utama kami. Tanpa kebijakan dan dukungan Dinas Pendidikan, tentu kami bukan apa-apa. Sebagai mitra, Dinas Pendidikan bukan saja menjadi partner kami dalam menghasilkan berbagai karya jurnalistik, tetapi juga partner kami dalam mengembangkan gagasan dan pikiran. Bahkan kadang-kadang benar-benar harus menjadi sparing partner dalam arti yang sesungguhnya. Namun itulah keunikan yang kami jalani. Majalah ini justru berkembang dalam situasi yang sangat dinamis.

Kepada masyarakat, kami sangat menanti kritik dan masukan untuk pengembangan majalah ini ke depan. Walau era media telah bergeser pada media digital, namun kami meyakini kehadiran Kandaga masih diperlukan sebagai bacaan yang sehat dan membangun, dalam formatnya yang masih print media seperti sekarang. Semoga saja, majalah ini terus berkembang, dan mencatatkan namanya dalam sejarah pendidikan di Kabupaten Garut.***