Bupati Buka MPLS Tingkat Kabupaten Garut: “Kualitas Sekolah Harus Sama”

0
417

KANDAGA.ID – Sudah tradisi, setiap tahun ajaran baru sekolah melaksanakan kegiatan pengenalan lingkungan sekolah kepada peserta didik baru untuk bisa beradaptasi yang dikenal dengan sebutan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Tahun ini, SMPN 1 Garut di Jl. Jend. A. Yani No. 43 Kelurahan Pakuwon, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat, mendapat kehormatan tempat pelaksanaan pembukaan MPLS jejang TK, SD, SMP tingkat Kabupaten Garut.

Secara resmi kegiatan di buka Bupati Garut, H. Rudy Gunawan, SH., MH., MP., dihadiri Dandim 0611 Garut, Letkol Inf Asyraf Azis, Kapolres Garut, AKBP Budi Satria Wiguna, S.IK., Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Drs. Yuda Iman Primadi beserta para Kepala Bidang, Kepala Seksi, Korwil, para pengawas, para kepala SMP se-Kabupaten Garut, perwakilan kepala SD dan Kepala TK, Senin (15/7/2019).

Dalam sambutannya Bupati Garut, H. Rudy Gunawan, SH., MH., MP., mengatakan, MPLS merupakan kegiatan yang penting untuk anak-anak yang baru naik tingkat, dari TK ke SD dan dari SD ke SMP.

“Ini adalah hari pertama kalian masuk sekolah, dan hari pertama kalian bertemu dengan teman-teman baru, punya guru baru dan kalian akan menjadi kesatuan ditingkatannya masing-masing,” ucap Bupati dihadapan kurang lebih 300 peserta didik yang mengikuti upacara pembukaan.

Bupati merasa gembira hari ini bertemu, apalagi sekarang ada di SMPN 1 Garut dan tidak akan lagi menyebutkan sekolah favorit, karena sekolah di Kabupaten Garut semuanya harus favorit.

“Sekolah yang ada di 42 kecamatan harus diminati oleh anak didik kita,” ujarnya.

Bupati menerangkan, sekarang kita sudah menggunakan sistem zonasi, meskipun kita tahu SMPN 1 Garut, SMPN 2 Garut dan beberapa SMP di ibukota kecamatan, itu merupakan sekolah yang fasilitasnya lengkap karena berada di perkotaan.

“Yang membedakan SMPN 1 Garut dengan SMPN 1 Cibalong misalnya, dengan SMP Negeri yang ada di Cisewu, SMP Negeri di Singajaya hanyalah letaknya yang berbeda, tetapi semangat kualitas pendidikannya harus sama, dan kita usahakan ke depan kualitas pendidikan di Kabupaten Garut dalam keadaan merata dan sama,” ujarnya.

Selain itu, Bupati juga merasa bangga kegiatan MPLS dihadiri dari semua jenjang, mulai dari anak-anak TK, PAUD, SD, dan SMP yang semuanya hebat-hebat yang luar biasa.

Untuk itulah Bupati merasa gembira karena sudah komitmen dalam rangka program pengenalan lingkungan sekolah, dimulai dari hal-hal yang baik, meningkatkan ketaqwaan, menuju anak-anak yang berakhlaqul karimah, mengenalkan Al-Quran.

“Lima tahun yang lalu ketika awal saya jadi bupati, saya marah kepada kepala SD yang anak-anaknya tidak paham Al-Fatihah dan artinya, saya mohon nih Kabid SD, supaya nanti anak-anak sudah bisa menghafal Al-Fatihah dan artinya,” ujar Bupati sambil meminta kepada para pengawas SD untuk mengcek, anak-anak benar tidak menghafal Al-Fatihah dan artinya. Karena menurut Bupati, kalau mengerti Al-Fatihah dan artinya, itu akan ketahuan awalnya akan sangat baik.

Selain itu, Bupati juga bergembira karena ada sekolah berbasis yang ada hubungannya dengan kebencanaan.

“Ini sangat luar biasa, anak-anak yang siap dengan siaga bencana,” ucapnya.

Dirinya berharap, dengan kegiatan ini akan menjadi spectrum bagi kegiatan di sekolah-sekolah yang ada di masing-masing kecamatan.

“Kepada ibu-ibu kepala SD, SMP tugas ibu itu adalah guru yang mendapatkan tugas tambahan sebagai kepala sekolah, bukan guru yang menjadi anemer sibuk dengan pemborong, sibuk dengan menguruskan masalah bangunan, guru tugasnya tetap mengajar,” ujarnya.

Bupati Garut mengatakan, sekarang dengan Keputusan Menteri, dana hampir 90 milyar menyebar di Kabupaten Garut untuk rehab sekolah.

“Kepala sekolah jangan di repotkan dengan itu, berikanlah kepada yang professional dan kita tetap mempunyai tugas sebagai pengajar,” ujarnya.

Dirinya mengatakan, Insya Allah akan melibatkan Kepala Desa (Kades) akan ada 100 SD dan SMP nanti akan dibantu oleh Kades supaya di sekolah itu terairi dengan air, supaya ada WC, dan lainnya.

“Dulu program ini pernah dilaksanakan oleh pemborong, tidak berhasil. Tetapi sekarang saya akan menitipkan uang kepada Kades, Kades disana membangun bersama masyarakat. Kami tahun ini ada 100 yang akan dibagikan untuk 70 SD dan 30 SMP, supaya Kades juga ikut campur, memiliki tanggung jawab moral terhadap keberadaan sekolah di desanya,” ujarnya.

Untuk itu tambah Bupati, jangan sampai guru tidak kenal dengan Kades, jangan sampai Kades acuh terhadap anak-anak yang sekolah di tempat dimana desa itu berada.

“Tentu kita juga berharap kualitas pendidikan ini, para Kabid tolong tugasnya itu memeratakan pendidikan. Jadi kualitas pendidikan jangan sampai “pa sedek-sedek” seperti di SMPN 1 Garut, SMPN 2 Garut dan SMPN 1 Cilawu. Tetapi kita jadikan semua sekolah adalah sekolah yang berkualitas karena sekaranga mempunyai sistem zonasi,” ucapnya.

Selain itu Bupati juga gembira, karena SMPN 1 Garut akan membangun masjid, yang mendapat laporan bahwa sponsor utamanya, donator utamanya adalah Bapak Kapolres Garut.

“Alhamdulillah, beliau bukan sebagai Kapolres tetapi beliau sebagai orang tua didik yang anaknya sekolah di tempat ini. Insya Allah kita bergotong-royong, terima kasih Pak Kapolres,” ucapnya.

Bupati berharap, kepada para kepala sekolah memiliki jiwa korsa yang baik dan juga Bupati mewanti-wanti kepada kepala dinas pendidikan.

“Awas jangan ada pungutan-pungutan apapun kepada guru, kepada siswa. Ada yang memungut dengan paksa, kita akan tindak sesuai dengan ketentuan,” tegasnya.

Tetapi ujar Bupati, kalau ada orang tua yang mau berjariah bershodaqoh, misalnya seperti Pak Kapolres membangun masjid disini, kita terima karena itu jariah dari orang tua dari anak yang ada di tempat kita sekolah.

“Jadi beda antara meminta dengan berjariah dan bershodaqoh,” jelasnya.

Bupati memohon, agar guru-guru bergairah lebih aktif dan bersemangat, dirinya sudah meminta, mohon maaf kepada Bank Jabar jangan mengiming-imingi guru untuk terus meminjam sehingga gajinya 10 tahun tidak lagi semangat.

“Jangan bu, kita mempunyai kewajiban, kewajiban untuk mendidik anak, ibu harus semangat menberikan contoh kepada junior-junior yang masih lama untuk mengabdi sebagai guru. Saya percaya kepada bapak ibu guru adalah yang professional, berintegritas, sehinga kita semua ingin kualitas sekolah di Kabupaten Garut sama di 42 kecamatan dan di 421 desa, 21 keluarahan,” pungkasnya. (Jajang Sukmana)***