Black Death

0
216
Ilustrasi (koleksi the times)

Sudah beberapa bulan ini warga dunia dicekam ketakutan akibat merebaknya virus corona atau COVID-19. Hanya dalam hitungan bulan wabah ini telah menyerang lebih dari 2 juta orang penduduk di muka bumi. Kini semua berada dalam situasi sulit,  karena penyakit ini sangat berdampak sistemik, tidak hanya membuat para korbannya menderita tetapi juga berdampak besar pada kehidupan manusia. Banyak tatanan sosial, politik dan ekonomi yang  terguncang dengan kehadirannya, semua negara hampir saja menyerah. Lihat saja Amerika Serikat yang tak bisa lagi jumawa sebagai negara adidaya karena lebih dari setengah juta warganya terpapar virus ini, begitu juga negara-negara di Eropa yang kelimpungan mengatasi virus corona ini.

Situasi sulit akibat virus yang dirasakan penduduk dunia akhir-akhir ini ternyata bukan pertama kali terjadi. Sepanjang sejarah peradaban manusia sudah berulang kali virus-virus mematikan menyerang manusia. Yuval Noah Harari dalam bukunya yang berjudul “Homo Deus” bahkan menyebutkan virus adalah musuh nomor dua paling menakutkan umat manusia setelah kemiskinan

Sejarah mencatat, di awal abad masehi pernah merebak virus yang diberi nama Black Death atau Maut Hitam. Nama yang menyeramkan ini merujuk pada kondisi para penderitanya yang kulitnya menjadi menghitam karena pendarahan subermal. Virus yang menyerang sekitar 1300 an masehi ini bahkan menyebar sangat cepat ke berbagai penjuru dunia dengan jumlah kematian diperkirakan mencapai  75 hingga 200 juta orang. Sungguh pandemi yang menakutkan dan sangat mengerikan

Masa terus berganti, kehidupan pun mengalami revolusi yang sedemikian mencengangkan. Ketika tiba di era teknologi informasi dengan segala kecanggihannya, ternyata manusia tetaplah tak berdaya untuk melawan berbagai jenis virus penyakit yang datang silih berganti.

Begitu berbahayanya virus penyakit membuat seorang sejarawan muslim yang bernama Ibnu Khaldun pernah menuliskan betapa mengerikannya Black Death. Dikutip dari minanews.net,sebagian tulisannya menggambarkan seperti ini . “Yang terjangkit adalah peradaban di timur dan di barat. Penyakit destruktif itu menghancurkan bangsa-bangsa, menyebabkan punahnya populasi. Ia menelan banyak hal yang baik dari peradaban dan memusnahkannya. Peradaban berkurang dengan berkurangnya kemanusiaan. Kota dan bangunan-bangunan ditinggalkan. Jalan-jalan besar dan kecil dilenyapkan. Permukiman dan bangunan besar menjadi kosong. Wangsa-wangsa dan suku-suku etnik melemah. Seluruh hunian di dunia telah berubah.”

Sejarah telah mengajarkan, betapa lemahnya manusia saat berhadapan dengan benda-benda tak kasat mata yang bisa menyerang dan mengancam kita setiap saat. Tentu saja banyak yang bisa kita lakukan agar tak selau kalah dan kalah langkah dengan virus-virus ini, salah satunya dengan mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya di bidang medis dengan fokus hanya satu hal, ilmu-ilmu baik teori maupun obat-obatan hanya untuk kepentingan kemanusiaan, bukan yang lain seperti hanya bertujuan pada nilai-nilai kapitalisme dan ambisi untuk menaklukan satu sama lain. Kalau tetap seperti sekarang, segala hal hanya dilihat dari kaca mata kepentingan masing-masing, bersiaplah Black Death dalam bentuk yang lain setiap saat akan mengancam peradaban manusia.