Belasan Bangunan SMP di Garut, Rusak Akibat Gempa Tasikmalaya

0
284
Beberapa bangunan SMP di Kabupaten Garut Rusak Diguncang Gempa
Beberapa bangunan SMP di Kabupaten Garut Rusak Diguncang Gempa

Sekitar 18 SMP di Kabupaten Garut rusak akibat gempa yang terjadi di barat daya Tasikmalaya, Jumat malam (15/12). Berdasarkan rilis yang diterima Kandaga dari Kepala Bidang SMP Disdik Garut, Totong, S.Pd, M.Si, hingga Minggu malam, tercatat ada 18 orang kepala sekolah yang sudah melaporkan kerusakan di sekolah yang dipimpinnya.

Totong menjelaskan, mayoritas sekolah yang terkena dampak gempa Tasikmalaya berada di wilayah Garut selatan. Berdasarkan data yang berhasil dihimpunnya lanjut Totong, jenis kerusakan sekolah-sekolah tersebut meliputi, atap bangunan yang ambruk, dinding ruang kelas retak-retak, plafon dan pecahnya kaca-kaca jendela. Kerusakan itu menimpa sejumlah ruang kelas, ruang guru dan kepala sekolah, aula/gedung olahraga dan masjid. “Kedelapan belas sekolah yang telah lapor kepada kami adalah, SMPN 1 Singajaya, SMPN 3 Pakenjeng, SMPN 3 Cikelet, SMPN 1 Pameungpeuk, SMP Muhammadiyah Pameungpeuk, SMP Muhammadiyah Cikelet, SMPN 2 Singajaya, SMPN 2 Banjarwangi, SMPN Satap 1 Cibalong, SMPN 1 Banjarwangi, SMPN 2 Cibalong, SMPN Satap 2 Cibalong, SMPN Satap 2 Cikelet, SMPN 1 Kadungora, SMPN 4 Garut, SMP PGRI Pameungpeuk, SMPN 5 Malangbong dan SMPN 2 Cisurupan,” ungkapnya

Totong menambahkan, pihaknya terus melakukan pendataan sekolah rusak karena gempa, karena tidak menutup kemungkinan ada sekolah-sekolah lainnya yang belum sempat melaporkan kondisi sekolahnya. Sementara data-data yang sudah masuk langsung dilaporkan Disdik Garut kepada Kemendikbud.”Kami terus memantau situasi dengan terus melakukan komunikasi dengan para kepala SMP, untuk menindaklanjuti laporan mereka kami juga terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat.

Totong berharap, ada solusi untuk memperbaiki kerusakan tersebut dari pemerintah pusat, sedangkan untuk kerusakan ringan yang bisa diperbaiki dengan dana BOS, Totong meminta para kepala sekolah langsung melakukan perbaikan dengan dana yang dimiliki sekolah. ” Ini bencana yang tidak kita harapkan, kami terus pro aktif untuk mencari solusi agar sekolah-sekolah tersebut bisa kembali dipergunakan untuk kegiatan belajar,” pungkasnya *** Herdy Pranadinata