Agus WF Terpilih Jadi Kepsek di Davao City Filipina

0
263
Agus WF <kiri> bersama Kabid Pendas kabupaten Garut, Totong, S.Pd.,M.Si <kanan>
Agus WF bersama Kabid Pendas kabupaten Garut, Totong, S.Pd.,M.Si

PUTRA terbaik asal Garut telah mampu berbicara banyak hingga ke tingkat internasional. Salah satunya Agus WF (50).  Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 1Leuwigoong Kabupaten Garut ini mengemban tugas yang baru. Ia terpilih untuk menjadi Kepala Sekolah Indonesia Davao City (SID) di Filipina.

“Membawa misi mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia, saya yakin bisa sukses mengembang kan pendidikan di sana,” kata Agus WF, saat ditemui di Kantor Dinas Pendidikan Garut Jalan Pembangunan, Kecamatan Tarogong Kidul, Senin (1/8/2016).

Tak mudah untuk bisa mengisi jabatan Kepsek di SID tersebut. Pasalnya Agus harus mengikuti seleksi yang cukup panjang sejak tahun lalu. Dari 31 pendaftar, hanya empat orang yang  lolos menjadi Kepsek untuk sekolah Indonesia di beberapa negara.

“Alhamdulillah saya terpilih mewakili Jawa Barat khususnya Garut untuk tugas kedinasan di Filipina dalam rangka menjadi Kepsek disana,” ujar Agus.

Agus tak menyangka jika dirinya bisa lolos seleksi. Selama hidupnya, Lulusan S2 Manajemen Pendidikan Universitas Galuh ini mengaku jika seleksi menjadi Kepsek tersebut merupakan yang tersulit dan terlama. Ia pun harus fasih ber bahasa Inggris agar bisa menjadi Kepsek di SID.

“Di Jawa Barat perwakilannya ada dua. Yang  satu  lagi Kepsek dari Bogor yang ditugaskan ke Bangkok,” katanya.

Seleksi untuk menjadi Kepsek, tambah Agus, dilakukan pihak Kemendikbud, Kemenlu, dan atase Kemendikbud. Untuk mengikuti seleksi ia harus mendaftar secara daring. Selain itu harus memiliki pengalaman tiga tahun menjadi Kepsek dan memiliki  toefl  550.

“Insya Allah kalau tidak ada halangan hari Sabtu ini (6/8) saya akan berangkat. Istri juga akan ikut. Kebetulan juga guru jadi bisa bantu mengajar di sana,” ucap mantan Kepsek SMPN  Banjarwangi  ini sambil  menyebut  akan memboyong  kedua  anaknya.

Tugas  menjadi  Kepsek di SID akan diembannya selama tiga tahun. Meski menjadi Kepsek di SID, Agus masih berstatus sebagai PNS Kabupaten Garut.  Jika dinilai berprestasi, bukan tak mungkin Agus bisa berpindah ke sekolah Indonesia lainnya setelah masa tugasnya selesai. Menurut Agus, anak-anak yang bersekolah di SID merupakan anak duta besar, pekerja Kedubes, warga Indonesia dan keturunan Indonesia. Apalagi Davao City merupakan kota wisata dan banyak dihuni warga keturunan Indonesia.

“Di sana itu saya jadi Kepsek dari SD sampai SMA. Jadi lumayan berat juga. Meski begitu saya punya misi untuk mencerdaskan  mereka dan  mengenalkan bahasa  dan  budaya Indonesia,” ujarnya.

Agus yang sudah delapan tahun menjadi Kepsek berharap bisa mendapat pengalaman berharga. Jika nanti kembali bertugas di Indonesia, Agus akan tetap mengabdi  pada dunia pendidikan.

Kabid Pendidikan Dasar Disdik Garut, Totong,  menuturkan  jika  Agus merupakan contoh guru berprestasi yang patut ditiru. Ia pun menjanjikan sepulangnya Agus ke Indonesia,  jabatan Kepsek masih akan diembannya.

“Dia kan sudah delapan tahun jadi Kepsek.  Harusnya kena periodisasi. Tapi karena berprestasi setelah selesai bertugas,  kami akan tetap memberikan jabatan Kepsek. Pengalamannya di sana mudahmu dahan bisa diterapkan di sini nantinya,” ucap Totong. Farhan SN