Ade Kaca Tuding Banjir Bandang Akibat Salah Tata Kelola Hutan

0
103

Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, dari Fraksi PAN, Ade Kaca, SE

Bencana banjir bandang di wilayah Garut Selatan, pada Minggu (12/10)2020), akibat meluapnya air sungai menyusul hujan lebat di beberapa kecamatan, seperti Kecamatan Pameungpeuk, Kec. Cibalong, Kec. Cikelet, Kec. Cisompet, Kec. Bungbulang, , dan Kec. Peundeuy, hal ini dituding Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Ade Kaca, SE, sebagai akibat kesalahan tata kelola hutan.

Rumah rumah yang terendam banjir, sebagian hanyut.

” Bagi saya, kejadian banjir bandang yang kerap terjadi di Garut bukan sesuatu yang aneh, dan mengagetkan, karna memang ada yang salah dalam tata kelola hutan. Selama itu tidak dievaluasi, jangan kaget bencana itu akan terus terjadi,” katanya.

Kondisi sebagian korban banjir di pengungsian.

Oleh sebab itu, kata Politisi Partai Amanat Nasional ini, Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemda Garut, dan seluruh satakeholder harus mengevaluasi seluruh kebijakan dan kewengan, baik berupa undang undang, maupun peraturan daerah.

Terutama ia menyoroti soal alih fungsi lahan, dari hutan lindung menjadi lahan pertanian, yang hampir seluruh kawasan hutan lindung di kabupaten Garut dan daerah lainnya sudah berubah menjadi lahan pertanian.” Salah satu contoh, kawasan hutan lindung di sekitar Kp. Cihideung dan Gununggelap, sudah berubah menjadi lahan pertanian, ” terangnya.

Karena itu, Ia meminta pemerintah melalui aparat penegak hukum, untuk menindak tegas para perambah hutan yang telah menjadikan hutan lindung sebagai lahan pertanian.

” Pemerintah yang sudah diberi kewenangan untuk mengartur segala perijinan yang ada , siapapun pelakunya yang merambah kawasan hutan lindung dijadikan lahan pertanian harus dihukum sesuai perundang undangan yang berlaku agar ada efek jera bagi pelakunya,” tegas putra daerah Garut Selatan ini.

Berdasarkan informasi sementara, akibat luapan Sungai Cipalebuh dan Sungai Cikaso di Kecamatan Pameungpeuk, mengakibatkan 3 jembatan gantung hanyut.  Di Desa Pameungpeuk, 1 RW di Kp. Kaumlebak 400 rumah terendam serta 1 unit posyandu, 1 unit warung hanyut, dan 1 unit rumah roboh. Tidak hanya itu, dua titik longsor  menutup akses jalan di Kp. Ciburahol.

Sedangkan akibat meluapnya Sungai Cibera di Kecamatan Cibalong dan Sungai Cipasarangan Kecamatan Cikelet, telah menyebabkan banyak perkampungan terendam banjir, 

Di Desa Mandalakasih, 1 buah jembatan gantung hancur, dan ratusa rumah terendam, yaitu di Kp. Leuwisimar 250 unit , Kp. Sukagalih 100 rumah unit, Kp. Sukapura 70 rumah unit dan di Kp. Asisor 30  unit.

Sementara di Kampung Cibarani Desa Paas 2 rumah hanyut, 2 RW di Kp. Segleng terendam. Sedangkan di Desa Sinarbakti rumah banyak terendam dan 3 rumah hanyut di Kp. Bintara, serta 1 buah jembatan gantung hanyut di Kp. Pasantren.

Sejauh ini Pemkab Garut, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi terkait terus meng inventarisir kerugian akibat bencana alam ini, serta meng inventarisir kebutuhan para korban dan yang terdampak. (Jay).