Abad 21, Guru Harus Melek Teknologi

0
728

KANDAGA.ID – Sekolah Tinggi Agama Islam Persatuan Islam (STAIPI) Prodi PGMI dan PAI STAI Persis Garut bekerjasama dengan PD Persistri Kabupaten Garut menyelenggarakan Diklat Guru Kreatif Abad 21 selama dua hari Sabtu-Minggu (12-13/2019), dengan tema “Merancang Pembelajaran Sesuai Keterampilan Pembelajaran Abad 21”, di Auditorium STAIPI Garut (Depan SOR Lapangan Ciatuel), Jl. Aruji Kartawinata Ciawitali, Desa Jayaraga, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Ketua Pelaksana, Fenti Inayati, M.Ag., mengatakan, pemateri utama Diklat Guru Kreatif Abad 21 yaitu, Prof. Dr. H. Dadan Wildan (Pejabat Eselon 1 Sekretariat Negara RI) “Kebijakan Pendidikan di Era Melenial”, Prof. Dr. Fauzan (Ketua Umum Asosiasi Dosen PGMI) “Peran Guru dalam Pembelajaran Era Digital”, Totong, S.Pd., M.Si (Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut) “Menjadi Guru Kreatif”, Fenti Inayati, M.Ag. (Guru SMP N 2 Tarogong Kaler, Dosen dan Sekretaris Prodi PGMI STAI Persis Garut) “Model Pembelajaran Abad 21” dan pemateri lainnya seperti, Asa Robby Azizan dkk. (Founder Multi Media Creative Student “M2CS”) “Guru Abad 21 melek IT”. Diantaranya memaparkan tentang Asiknya mengajar dengan metode bercerita dengan menggunakan aplikasi scracth, asiknya mengajar PKN dengan aplikasi videoscribe, pemanfaatan whats app teknik robot, penggunaan quite book dalam pembelajaran dan lain-lain.

“Tujuan Diklat ini, supaya para pendidik memahami karakteristik abad sekarang, sehingga dalam menyampaikan ilmu tidak terkesan tertinggal dan kolot. Tapi seorang pendidik mesti menguasai teknologi dan menjadikannya salah satu alat menyampaikan ilmu pengetahuan, mengingat kecenderungan generasi abad 21 sangat tidak bisa dipisahkan dari teknologi,” jelas Fenti Inayati, M.Ag., Guru Berprestasi tingkat Jawa Barat 2018 dari SMPN 2 Tarogong Kaler ini, melalui telphone cellurernya, Rabu (16/1/2019) malam.

Fenti mengatakan, acara ini bertujuan supaya pendidik mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan guru di abad 21, yaitu teaching in multicultural society, teaching for the construction of meaning, teaching for active learning dan lain-lain, diantara hal kecil yang bisa dilakukan adalah guru dapat mengintegrasikan antara model-model pendidikan yang sesuai dengan abad 21 dengan memanfaatkan teknologi informasi komunikasi, penguasaan teknologi bagi guru salah satu hal yang harus dipersiapkan dalam menyongsong abad 21 ini.

“Pada abad ini tidak sama dengan abad-abad sebelumnya, tapi memiliki beberapa standar diantaranya literasi, karakter, dan yang paling penting adalah melek teknologi, karena siswa kita saat ini adalah generasi milenial,” ujar Fenti dan mengutip perkataan Ali bin Abi tholib, “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya,karena mereka hidup bukan di zaman-mu”.

Mengutip perkataan seorang tokoh, Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasy, M.A., bahwa materi itu penting, tapi metode itu lebih penting dari pada materi. Metode itu penting, tapi guru lebih penting dari metode. Guru itu penting, tapi ruh guru itu lebih penting dari seorang guru.

“Kompetensi yang diperlukan di abad 21 yaitu kualitas karakter seperti iman dan taqwa, cinta tanah air, dan lain-lain, Berpikir Kritis (Critical Thingking), Kreativitas (Creativity), Komunikasi (Communication), dan Kolaborasi (Collaboration),” yang dikenal dengan 4C, juga kemampuan dalam berliterasi,” ujarnya.

Fenti menjelaskan, model pembelajaran abad 21 yang dirancangnya yaitu model-model pembelajaran yang mengarahkan kepada kompetensi abad 21yaitu berfikir kritis, kreatif, kolaboratif dan komunikatif yang dikenal dengan 4C seperti problem based learning, projet based learning, cooperative learning, scientific methode, discovery incuiry diintegrasikan dengan Information Communication Technologi (ICT).

“Seperti asyiknya belajar menggunakan model PBL dengan pemanfaatan aplikasi Quipper scholl, asyiknya belajar IPA dengan scientific methode dan Virtual reality, asyiknya belajar IPS melalui metode inquiry dengan peta digital, asyiknya menghafal Alquran dengan metode syamil dengan memanfaatkan fitur boomerang, pemanfaatan flipbook dalam pembuatan media pembelajaran, pemanfaatan aplikasi mindomo dalam pembuatan media pembelajaran dan lain-lain,” pungkas Fenti.

Sementara Prof. Dr. Dadan Wildan dalam materinya mengatakan, bagaimana seorang pendidik merespon perkembangan yang terjadi pada abad 21 ini. Mau atau tidak mau metode yang digunakan seorang pendidik dalam menyampaikan materi pelajaran mesti mengikutsertakan teknologi sebagai alatnya.

“Generasi pada abad 21 ini hidup pada masa revolusi industri 4.0, globalisasi dan juga merupakan generasi Z yang mana cirinya adalah pelbagai kehidupan yang tidak bisa lepas dari teknologi. Maka untuk menciptakan SDM yang unggul, seorang pendidik harus bisa merespon dengan baik perkembangan tersebut,” ujarnya.

Sedangkan Kadisdik Totong, S.Pd.,M.Si., mempersilahkan mengikuti perkembangan yang ada, karena dituntut untuk merespon kemajuan pada abad 21 ini dengan baik dan bijaksana. Meskipun secara umum sepakat kebutuhan masa kini, dan konsekuensi yang mesti diterima bersama. Namun, dalam hal pendidikan tidak melupakan satu komitmen, yaitu aspek religius.

“Kami komitmen pada aspek religiusitas, oleh karena itu, salah satu peraturan pendidikan di Garut adalah siswa dilarang membawa handphone (HP) saat berlangsung proses pembelajaran, supaya anak fokus pada pembelajaran,” ujarnya.

Kemudian Prof. Dr. Fauzan mengatakan, ciri dari abad 21 itu adalah kemajuan teknologi. Maka dalam hal pendidikan mempunyai konsekuensi yaitu, pemanfaatan teknologi sebagai sarana pendidikan dan perkembangan teknologi dikembangkan sebagai media pembelajaran berbasis IT.

“Seorang guru harus melek teknologi, mengikuti setiap perkembangan teknologi yang terus berkembang. Posisi kita hari ini mempunyai peran yang sangat penting, sebab sebuah kurikulum tidak akan berjalan kalau guru tidak berperan,” ujarnya.

Menurutnya, guru adalah orang pertama dalam mencerdaskan manusia. Guru sebagai agen pemersatu bangsa, sebagai agen perubahan menuju perbaikan, dan tugas guru untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik.

Kegiatan diakhiri dengan penampilan mahasiswa PAI dan PGMI, menjelaskan model-model pembelajaran berbasis teknologi yang dapat dipakai oleh para guru disekolahnya masing-masing. Dan penampilan Dosen/Ketua Prodi PGMI STAI Persis Garut, Ustadz Yusup Tajri, M.Pd., mempersembahkan aplikasi Hiwar Praktis yaitu aplikasi untuk memudahkan mempelajari bahasa Arab praktis, efektif dan mudah dipahami sebagai sebagai media pembelajaran bagi peserta didik, dan sudah dapat diunduh di Google Play Store. (Jajang Sukmana)***